Home » » Penemuan Kapal ‘Bahtera’ Nabi Nuh yang Menakjubkan

Penemuan Kapal ‘Bahtera’ Nabi Nuh yang Menakjubkan

Di sebuah gunung yg senantiasa diselimuti salju yg terletak di Timur Turki, tersembunyi sebuah misteri “berharga” yang berusia lebih dari 5000 tahun.

Peninggalan sejarah yg maha berharga itu bukan saja menarik minat para pengkaji Sejarah saja, namun pihak penyelidik US seperti CIA/KGB pun mencoba untuk melakukan penelitian disana. Sejauh ini CIA telah menggunakan satelite dan pesawat ‘Stealth’ utk mengambil gambar objek yg terdampar di puncak gunung tersebut. Gambar-gambar itu telah menjadi “rahasia besar” dan tersimpan rapi dengan kawalan yg ketat bersama dengan “rahasia-rahasia″ penting yg lain di Pentagon. Sudah beratus-beartus orang mencoba untuk mendaki Gunung Aghi-Dahl yg kerap dijuluki juga sebagai “Gunung Kesengsaraan” atau dengan nama peta-nya yaitu Mount Ararat, namun hanya beberapa orang saja yang berhasil menaklukannya. Sebagian lagi selebihnya hanyalah menambah deretan panjang pendaki-pendaki yang menjadi korban keganasannya. Hingga hari ini, hanya ada beberapa orang pendaki yg dapat sampai ke puncak Mt. Ararat sekaligus dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah artifak yang ‘maha berharga’ tersimpan abadi dipuncaknya.

Lalu apakah sebenarnya artifak “maha berharga” yang terkubur selama ribuan tahun di puncak Ararat itu?

Menurut para ahli kepurbakalaan, mereka menafsirkan bahwa artifak dengan dimensi yang sangat besar tersebut tak lain adalah The Great Noah Ark (Perahu/Bahtera Nabi Nuh)!

Seperti yang kita ketahui bahwa The Great Pyramid of Giza, Mesir telah terkubur didalam tanah selama kurang lebih 2.000 tahun lamanya sebelum ditemukan dan dilakukan penggalian terhadapnya. Begitu pula halnya dengan The Great Noah Ark, sebelum terjadinya sebuah gempa bumi hebat yang melanda daerah itu pada 2 Mei 1988 silam, artifak tersebut tertimbun di bawah salju hampir selama 5.000 tahun lamanya tanpa ada yang mengetahui bahwa sebenarnya tersimpan sebuah rahasia besar didalamnya.

Sebenarnya, zaman Nabi Nuh AS dulu tidaklah seprimitif yg kita semua bayangkan. Pada hakikatnya pengetahuan Sains dan teknologi mereka sudah maju pada masa itu.

Contohnya dari beberapa hasil temuan di kaki Mount Ararat, Para Pengkaji dan Scientist Russia telah menemui lebih kurang 500 kesan artifak batu baterai elektrik purba yg digunakan untuk menyadurkan logam. Tentunya temuan tersebut bisa membuktikan bahwa masyarakat zaman Nabi Nuh AS telah mengenal listrik.

Mengikut perkiraan para ahli, Nabi Nuh AS kira-kira memulai membangun bahteranya pada tahun 2465 B.C dan hujan lebat baru turun dan mengguyur bumi selama bertahun-tahun sehingga mengakibatkan munculnya air bah maha dasyat yang rata-rata dapat mengakhiri sebagian populasi manusia dimuka bumi diperkirakan terjadi pada 2345 B.C.

Rupa bentuk dari The Great Noah Ark itu sendiri sebenarnya tidak sama dengan bentuk kapal laut masa kini pada umumnya. Menurut para peneliti dan pendaki yang pernah melihat langsung “Noah Ark” di puncak Mt. Ararat serta beberapa image yang diambil dari pemotretan udara, The Great Noah Ark memang merupakan sebuah bahtera yang berdimensi sangat besar dan kokoh.

Kontruksi utamanya tersusun oleh susunan kayu dari species pohon purba yg memang sudah tidak bisa ditemui lagi didunia ini alias sudah punah. Pengukuran obyek yang ditandai mempunyai altitude 7.546 kaki (1 kaki = 0.3048 meter) dengan panjang dari bahtera kurang lebih 500 kaki, 83 kaki lebar, dan 50 kaki tinggi. Ada juga Para Pengkaji berpendapat, “Noah Ark” berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola.
Luas pada bagian dalamnnya cukup untuk menampung ratusan ribu manusia. Jarak dari satu tingkat ke satu tingkat lainnya ialah 12 hingga ke 13 kaki. Sebanyak kurang lebih ribuan sampai pulahan ribu balok kayu digunakan untuk membangunnya.

Totalnya, terdapat kurang lebih ratusan ribu manusia dan hewan dari berbagai species yang ikut menaiki bahtera ini, Mengikuti kajian dari Dr. Whitcomb, kira-kira terdiri 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung,6300 jenis reptilia,2500 jenis amfibi yang menaiki The Great Noah Ark tersebut, sisanya adalah para kaum Nabi Nuh AS yang percaya akan ajaran yang dibawanya. Total berat kargo/muatan bahtera itu keseluruhan mungkin mencapai kurang lebih 24,300 ton.

Di sekitar obyek tersebut, juga ditemukan sebuah batu besar dengan lubang pahatan. para peneliti percaya bahwa batu tersebut adalah “drogue-stones”, di mana pada zaman dahulu biasanya dipakai pada bagian belakang perahu besar untuk menstabilkan perahu. Radar dan peralatan mereka menemukan sesuatu yang tidak lazim pada level “iron oxide” atau seperti molekul baja. Struktur baja tersebut setelah dilakukan penelitian bahwa jenis “vessel” ini telah berumur lebih dari 100.000 tahun, dan terbukti bahwa struktur dibuat oleh tangan manusia. Mereka percaya bahwa itu adalah jejak pendaratan perahu Nuh.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa kemungkinan besar ‘Noah Ark’ ini dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak, yaitu sebuah kawasan yg terletak di selatan Iraq.

Jika ia dibangun di selatan Iraq dan akhirnya terdampar di Utara Turkey, kemungkinan besar bahtera tersebut telah terbawa arus air sejauh kurang lebih 520 Km. Mt.Ararat itu sendiri bukanlah sembarang gunung, ia adalah sebuah gunung yang unik. Diantara salah satu keunikan yang terdapat pada gunung ini ialah, pada setiap hari akan muncul pelangi pada sebelah utara puncak gunung itu.

Mt.Ararat ini ialah salah satu gunung yang mempunyai puncak yang terluas di muka bumi ini. Statusnya juga merupakan puncak tertinggi di Turki yaitu setinggi 16,984 kaki dari permukaan air laut. Sedangkan puncak kecilnya setinggi 12,806 kaki .Jika kita berhasil menaklukkan puncak besarnya, kita dapat melihat 3 wilayah negara dari atasnya, yaitu “Russia, Iran, dan Turkey”.

Sebuah “batu nisan” yang didakwa kepunyaan Nabi Nuh AS telah dijumpai di Mt. Lebanon di Syria. Batu nisan itu berukuran 120 kaki panjang.
Pada tahun 1917, Raja Russia Tsar Nicholas II mengirim sejumlah 150 orang pakar dari berbagai bidang yg terdiri dari saintis, arkeolog dan tentara untuk melakukan penyelidikan terhadap The Great Noah Ark tersebut.

Setelah sebulan, tim ekspedisi itu baru sampai ke puncak Ararat. Segala kesukaran telah berhasil mereka lewati, dan akhirnya menemukan perahu Nuh tersebut. Dalam keadaan terkagum, mereka mengambil gambar sebanyak mungkin mengukur panjang perahu Noah dan didapati berukuran panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki, sebagian lainnya tenggelam di dalam salju. Hasil dari perjalanan itu dibawa pulang dan mau diserahkan kepada Tsar, malangnya sebelum sempat melaporkan temuan itu ke tangan kaisar, Revolusi Bolshevik Komunis (1917) meletus. Laporan itu akhirnya jatuh ke tangan Jenderal Leon Trotsky. Sehingga sampai sekarang masih belum diketahui, apakah laporan itu masih disimpan atau dimusnahkan.

Mari kita melihat lebih mendalam tengang awal penemuan bahtera Nabi Nuh As. Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan. Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.

Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14×10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain.

Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh AS yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut. Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh AS, timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut.

Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953. Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College

Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh AS, dan bahwa Nabi Nuh AS telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.

Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani. Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”

Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.

Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia. Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt AS.

Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953
2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954
5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, sang kekasih Allah, keluarganya, dan kepada para sahabatnya.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Rasulullah SAW dengan shalawat yang membuat dada menjadi lapang, berbagai urusan menjadi lapang, berbagai urusan menjadi mudah, berbagai penghalang menjadi terbuka dan sampaikan kepadanya salam yang banyak, berkesinambungan hingga Hari Kiamat. Seruan mereka di sana adalah “Mahasuci Engkau Ya Allah,” Penghormatan mereka di sana adalah “Salam.” Dan akhir ucapan mereka adalah “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Yunus : 10).

Catatan: Shabbar dan Shabbir adalah bahasa Sarmani yang artinya Hasan dan Husain (Putra Pasangan agung Imam Ali AS dan Fathimah AS, dan cucu kesayangan Rosulullah), kelima nama tersebut dalam Islam sering disebut dengan “Ahlul Kisa”

Adakah Orang yang Pernah Melihat Kapal Nabi Nuh?

Selama lebih dari dua dekade terakhir pencarian kapal Nabi Nuh telah memperoleh perhatian internasional. Lusinan ekspedisi ke daerah Ararat di sebelah timur Turki, kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kristen Amerika, telah menuntun kepada banyak klaim – tetapi tidak ada bukti.
Menurut Kitab Suci, kapal Nabi Nuh AS merupakan suatu perahu besar yang dibuat dari kayu gofir dan ditutup dengan pakal. Ukuran keseluruhannya adalah panjang 450 kaki, lebar 75 kaki dan tinggi 45 kaki dengan tiga geladak di dalam. Sebuah “jendela” dibuat di bagian atas (Kejadian 6:14-16). Sepintas, ukuran keseluruhan kapal ini menjadikannya kendaraan laut terbesar yang ada sebelum abad ke-20, dan proporsinya secara menakjubkan mirip dengan kapal laut besar yang ada sekarang. Kitab Suci mengatakan bahwa kapal Nabi Nuh kandas di “pegunungan Ararat” (Kejadian 8:4). “Ararat” mungkin menerangkan suatu daerah (kerajaan kuno Urartu) dan bukan puncak gunung secara khusus. Setelah Nabi Nuh dan keluarganya meninggalkan kapal di atas gunung, kapal tersebut tidak pernah disebut-sebut lagi dalam Kitab Suci. Kemudian penulis-penulis Kitab Suci tidak pernah menyatakan bahwa mereka tahu bahwa kapal tersebut masih dapat dilihat.

Pegunungan yang disebut Ararat sekarang lebih nampak seperti daerah pegunungan dengan dua puncak. Yang menarik, ada banyak laporan sepanjang sejarah mengenai perahu besar di pegunungan di daerah ini. Keterangan yang paling awal (bermula pada abad ke-3 S.M.) menyatakan bahwa sudah diketahui secara umum bahwa kapal Nabi Nuh itu masih dapat dilihat di pegunungan Ararat.

Laporan-laporan selama lebih dari seabad terakhir ini berkisar dari kunjungan ke kapal tersebut, sampai penemuan kayu, sampai foto pemandangannya. Secara umum dipercaya bahwa sekurang-kurangnya sebagian besar dari kapal itu masih utuh, tidak di atas puncak yang tertinggi, tetapi di suatu tempat di atas 10.000 kaki. Terperangkap dalam salju dan es hampir sepanjang satu tahun, hanya pada musim panas yang hangat saja struktur kapal tersebut dapat dilihat atau didekati. Beberapa orang mengatakan telah memanjat atapnya, yang lainnya mengatakan mereka telah berjalan-jalan di dalamnya.

Pada tahun 1980-an, “ark-eology” mendapat kehormatan dengan berpartisipasinya mantan astronot NASA James Irwin dalam ekspedisi ke pegunungan. Sebagai tambahan, investigasi kapal Nabi Nuh diuntungkan dengan pecahnya Uni Soviet, karena pegunungan tersebut tepat berada di perbatasan Turki-Soviet. Ekspedisi ke atas pegunungan selalu dianggap sebagai ancaman keamanan oleh pemerintah Soviet.
Sayangnya, kunjungan-kunjungan ke situs yang diusulkan tidak menghasilkan bukti lebih lanjut, tempat beradanya foto-foto tidak diketahui lagi, dan peninjauan yang berbeda tidak menuju ke lokasi yang sama di pegunungan. Lebih dari itu, astronot James Irwin telah meninggal, seorang saksi mata inti telah menarik diri dari hadapan publik, dan sudah ada beberapa ekspedisi baru ke pegunungan di tahun 1990-an.

Tetapi usaha-usaha masih tetap berjalan. Sementara Asosiasi untuk Penelitian Kitab Suci (Associates for Biblical Research) tidak terlibat dalam usaha-usaha ini, kami melanjutkan penelitian tentang laporan-laporan kuno, pengakuan lebih lanjut dari saksi mata dan memperbaharui usaha untuk menentukan tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh. Masih banyak ekspedisi yang menunggu. Jika kapal tersebut memang ada di atas sana, kita akan mendengar beritanya.

Adapun tentang bahtera Nabi Nuh as ini sesungguhnya Allah swt telah meninggalkannya sebagai salah satu dari tanda kebesaran-Nya dan agar orang-orang yang datang setelahnya dapat mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami oleh Nuh dan orang-orang yang bersamanya yang kemudian diselamatkan dengan bahtera itu sementara orang-orang yang kafir terhadapnya ditenggelamkaan oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya :
Artinya : “Dan Sesungguhnya telah kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS. Al Qomar : 15 – 16)

Sedangkan keberadaan bahteranya setelah Allah swt menyelamatkannya serta orang-orang yang bersamanya juga telah disebutkan didalam firman-Nya :
Artinya : “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim .” (QS. Huud : 44)

Ararat, Tempat Kapal Nabi Nuh Berlabuh

Banyak website yang ramai membicarakan klaim bantera Nabi Nuh telah ditemukan di Gunung Ararat, Turki.Penemu yang dipimpin oleh kelompok evangelis, mengatakan yakin 99,9% struktur kayu yang ditemukan di sisi gunung itu merupakan bagian dari kapal yang disebutkan dalam kitab suci.

Kapal itu dikatakan yang menampung keluarga Nabi Nuh serta berbagai hewan selama kejadian banjir besar pada 4800 tahun lalu.
The Ark Of Noah atau bahtera noah, sebuah kapal yang di buat oleh Nabi Nuh (Noah) yang begitu melekat di hati dan iman kaum Muslim dan Nasrani dan sangat melegenda yang penemuan nya membuat Arkeolog dari seluruh dunia merasa sangat perlu untuk melakukan investigasi di lokasi terdamparnya yaitu di sebuah gunung di wilayah turki yang bernama mount Arafat (Gunung Aghi-Dahl). Pegunungan ini merupakan puncak tertinggi di Turki dan merupakan gunung dengan puncak terlebar di dunia.

Banyak investigasi dilakukan namun selalu berakhir tragis, banyak yang tak mampu mencapai puncaknya dan meminta nyawa seolah ingin menyimpan perjalanan sejarah itu dalam selimut dingin nya misteri. Situs penemuannya pun berhasil ditemukan setelah kurang lebih 5.000 tahun terpendam dalam salju.

Perahu Nuh yang menurut hikayat telah membawa ribuan makhluk hidup bersama pelayarannya ( terdiri dari hewan dan beberapa pengikut setia yang mempercayai ajaran kenabian Nuh ) itu di temukan meskipun bukan dalam utuh sebuah kapal, namun peninggalan berupa artefak yang berbentuk kapal besar dengan panjang 500 kaki, 83 kaki lebar, dan 50 kaki tingginya. Diperkirakan, Nabi Nuh AS memulai membangun kapalnya itu pada tahun 2.465 B.C dan hujan deras turun mengguyur bumi bertahun- tahun yang mengakibatkan munculnya air bah mahadasyat yang dapat menghilangkan sebagian populasi manusia dimuka bumi yang diperkirakan terjadi pada 2345 B.C, Bentuk dan rupa kapal Nuh sendiri tidaklah seperti kapal kapal yang ada sekarang, paling tidak itulah penuturan dari orang orang yang berhasil mencapai puncaknya dan menyaksikan betapa besar kapal itu, begitu juga hasil foto satelit dari NASA yang berhasil didapatkan. mungkin lebih tepat disebut seperti benteng.

Konstruksi nya menggunakan kayu purba yang kokoh dan sudah tidak ada lagi populasi nya sekarang. Punya tinggi lantai sekitar 12 kaki antara deck nya.seorang profesor memperkirakan kapal itu mampu memuat 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibi dan total berat yang di pikul kapal tersebut mencapai 24.300 Ton. Beberapa peneliti berpendapat bahwa kemungkinan besar ‘Noah Ark’ ini dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak di wilayah selatan Irak sekarang, dan dengan begitu lokasi terdamparnya yang berada di TurkiAllah SWT. sekedar tambahan Nabi Nuh dilantik menjadi Rasul ketika berusia 480 tahun dan wai’at pada usia 950 tahun.

Namun demikian tetap saja terjadi perdebatan mengenai lokasi terdamparnya kapal Nabi Nuh tersebut.ada yang mengatakan berada di sebuah puncak gunung setinggi 4.000 meter di Jazirah Ibnu Omar di Pulau Butan dan ada juga di lokasi yang saya bahas ini yaitu di di puncak pegunungan Arafat setinggi 5.165 M ini, dan semua pihak tersebut mengajukan argumen nya masing2, Waalahuallam bishowab kurang lebih berjarak 520 Kilometer dan konon Nabi Nuh dan semua penumpang nya terombang ambing di belantara badai angin topan selama 5 bulan sebelum akhirnya berhenti di lokasi penemuan nya sekarang.Menurut riwayat, ketika bahtera Nuh mendarat makanan telah habis. Mereka memasak sisa makanan seperti biji rin untuk beberapa keperluan. Mereka kemudian membuka perkampungan, bercocok tanam dan berternak sambil tidak lupa beribadah kepada ALLAH.

Klaim mengejutkan dikeluarkan peneliti ‘Noah’s Ark Ministries International’ dari China dan Turki. Mereka mengaku menemukan bahtera atau kapal Nabi Nuh yang digunakan untuk menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi lainnya dari bencana banjir bah yang diyakini menenggelamkan separuh dari daratan Bumi, 4.800 tahun silam.Sisa-sisa bahtera Nuh Nuh ditemukan berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur. Tak hanya mengajukan klaim, kelompok peneliti ini juga menampilkan foto dan membawa specimen dari kapal sebagai bukti penguat.Mereka juga membuat rekaman dokumentasi di dalam benda mirip kapal, ukurannya besar, sebagian besar permukaannya tertutup salju — yang diyakini bahtera Nuh yang legendaris. Video itu membawa kita masuk ke dalam bahtera Nuh. Seperti dilansir YouTube, para peneliti memukul-mukul papan-papan coklat, untuk membuktikan itu terbuat dari kayu.Untuk masuk ke lambung kapal, peneliti harus menggunakan tambang.

Kisah Nabi Nuh diceritakan dalam ajaran tiga agama besar, Islam, Kristen, dan Yahudi — memicu misi pencarian sisa-sisa kapal legendaris tersebut. Klaim penemuan di lokasi Gunung Ararat ini bukan kali pertamanya. Namun, klaim itu tak ada yang disertai bukti kuat. Pada 1970, seorang pria Armenia Georgie Hagopian, mengklaim telah mengunjungi bahtera Nuh dua kali sekitar tahun 1908/1910 dan 1906 Hagopian mengklaim dia menaiki kapal Nuh dan berjalan di atapnya.Lalu ada, Ed Davis, prajurit AS berpangkat sersan yang bertugas dalam Perang Dunia II di Hamadan, Iran. Dia dilaporkan telah mendaki Gunung Ararat pada 1943. Dia mengaku bisa mengintip bagian dalam bahtera itu, namun tak berani untuk mendekat.

Seperti diketahui oleh kita semua bahwa sekitar bulan April 2010 yang lalu telah diadakan survey penelitian dan penemuan oleh “Noah’s Ark Ministries International” akan adanya sisa perahu Nabi Nuh As disalah satu lereng gunung Ararat di Turki. Kita tidak mengetahui secara pasti kapan perahu tersebut berada disana, namun beberapa prediksi dapat ditarik dari sejarah dalam Kitab Injil dan Al-Qur’an. Data yang ditemukan pada waktu ini adalah bahwa lokasi ex perahu tersebut berada pada ketinggian lebih dari 3.250 m diatas permukaan laut. Hal itu saja telah dapat menggugah nalar kita untuk berpikir dan membayangkan bahwa kalau posisinya sekarang setinggi lebih dari 3.250 m, maka seberapa tingginya banjir besar yang terjadi dijaman Nabi Nuh AS tersebut.

Dari mana datangnya air banjir (laut banjir) sampai setinggi itu? Kalau disimak dari riwayat dalam Al-Qur’an, maka datangnya banjir tersebut juga secara tiba-tiba dan serentak, jadi semacam aliran air yang sangat besar sekali, bahkan bukit-bukit yang adapun semuanya tenggelam. Selanjutnya kemanakah semua air banjir tesebut ahirnya mengalir, sehingga perahu Nabi Nuh ahirnya terdampar diposisi lereng gunung pada ketinggian sekarang lebih dari 3.250 m.

Menurut para ahli peneliti bahwa keberadaan sosok benda tersebut sebenarnya sudah dicurigai sejak awal tahun 1940-an, kira-kira setelah ditemukannya pesawat terbang. Dari pantauan dengan menggunakan pesawat terbang, sosok benda tersebut telah banyak menarik perhatian para pengamat sebagai sosok benda misterius. Ada beberapa faktor alam yang mendukung terjaganya keberadaan sosok benda tersebut yaitu adanya lapisan salju yang permanen pada ketinggian tersebut. Dengan demikian maka fosil ex perahu Nabi Nuh seolah diawetkan selama puluhan abad (atau puluhan millennium), sampai ahirnya ditemukan secara pasti oleh para ahli pada bulan April 2010 yang lalu.

Sebagai data hasil penemuan secara teknis dan teknologis sebenarnya sudah finish, bahkan di Negeri Belanda telah ada replikanya sama dengan ukuran aslinya. Replika tersebut dibangun oleh seorang penggemarnya dengan bahan kayu, dengan mengikuti data temuan yang ada, besarnya kira-kira sama dengan lapangan sepak-bola. Bagi yang ingin melihatnya dapat disaksikan di Negeri Belanda sebagai obyek wisata yang menarik.
Namun bagi nalar manusia yang mempercayai adanya “Kehendak Tuhan” dibalik semua itu tentunya kenyataan itu menimbulkan banyak pertanyaan, apa sebenarnya rahasia yang ada dibalik penemuan itu.

Pada waktu sekarang melalui kecanggihan citra satellit dan sarana “Google-Earth”, orang dapat mendeteksi posisi dan kondisi ex perahu Nabi Nuh tersebut, ukurannya sekitar 150 x 50 m2. Dengan ukuran sebesar itu maka adalah wajar bahwa didalam perahu tersebut juga telah diangkut hewan-hewan besar dan kecil secara lengkap. Dari riwayat dan kenyataan sekarang maka pada waktu itu telah terjadi kemusnahan kehidupan didaratan yang sangat luas. Disamping semua itu dalam riwayat juga dijelaskan bahwa usia Nabi Nuh As mencapai seribu tahun, ini merupakan segi lain yang juga patut dijadikan bahan kajian para ahli sejarah. Dengan beberapa keterangan tersebut dapat ditarik perkiraan kapan peristiwa tersebut terjadinya, yang pasti kemungkinannya bisa lebih dari 10.000 tahun sebelum masehi, silahkan diteliti oleh para ahlinya. Namun yang tetap menimbulkan pertanyaan adalah ada rahasia apa yang tersembunyi dibalik semua itu, sehingga kepastiannya baru ditemukan oleh para ahli pada tahun 2010 ini. Baiklah itu semua masalah yang berkaitan dengan ex perahu Nabi Nuh AS. Sekarang perhatian kita coba dialihkan kepada kaitan-kaitan lainnya.

Saya menggemari kecanggihan citra satellit pada sarana komputer “Google-Earth” yang sangat akurat. Dengan sarana tersebut kita dapat menjelajah permukaan bumi kemana saja bahkan dapat mendeteksinya sampai detail pada level 250 m diatas muka daratan atau obyek. Dengan pendeteksian demikian detail, maka kita dapat melihat benda-benda dipermukaan bumi secara jelas dengan akurasi yang tinggi bahkan dapat juga dengan penampilan perspektip, tiga dimensional. Kita dapat membaca data ketinggian suatu permukaan daratan atau juga kedalaman lautan secara tepat, cepat dan mudah sekali. Kecanggihan “Google-Earth” tersebut telah banyak membantu saya mendeteksi arah qiblat masjid-masjid besar didunia, apakah arah qiblatnya tepat/presisi atau tidak, semua hasilnya dapat langsung dilihat dan disimpan datanya, berupa dokumen foto-JPG. Salah satu contoh bisa diambil yaitu, masjid Raja Hassan II di Marokko Cassablanka ditepi laut, ternyata mempunyai arah qiblat yang tepat menuju Ka’bah di Makkah.

Selain meneliti arah qiblat masjid, saya juga pernah mencoba menarik garis “ruler” dari pusat bangunan Ka’bah kearah dan sampai pada bangunan Piramyd di Giza Mesir. Dari hasilnya saya menjadi sangat kagum sekali karena ternyata ketiga arah axis-diagonal Pyramid (yang kearah tenggara) adalah persis sama yaitu semuanya menuju bangunan Ka’bah di Masjid Al-Harom. Dalam hal itu saya berfikir apakah arah axis-diagonal ini yang menuju Ka’bah adalah suatu kebetulan saja? Mungkin untuk sementara waktu, kita dapat menganggap bahwa arah axis-diagonal tersebut memang suatu kebetulan, apalagi bila kita meneliti dari sejarah bahwa Pyramid tersebut dibangun sekitar 3.000-4.000 tahun sebelum Masehi, dan dibangun dengan teknologi masa itu yang masih sangat lokal. Apalagi waktu itu para Fir’aun disamping belum mengenal Tuhan, tentunya tidak mengetahui secara persis letak kota Makkah, begitupun kehidupan disana sama sekali tidak ada hubungannya dengan Makkah. Bahkan sampai jaman modern inipun masyarakat dunia tidak pernah memperhatikan dan apalagi memperdulikan kemanakah arah dari axis-diagonal Pyramid tersebut. Namun demikian dari hasil pendeteksian citra satellit telah secara pasti dan akurat bahwa arah axis-diagonal 3 Pyramid yang ke tenggara adalah tepat/persis menuju bangunan Ka’bah. Hasil pencitraan “Google-Earth” sangat presisi/akurat sampai pada ketinggian 300 m diatas obyek Pyramid dan Ka’bah (pengukuran itu tidak dapat dilakukan dengan pesawat terbang atau teknologi lainnya).

Selanjutnya saya kembali teringat akan hasil penemuan terahir di abad 21 ini yaitu fosil ex Perahu Nabi Nuh di Turki. Saya mempunyai data satelit “Google-Earth” keberadaanya secara tepat yaitu dilereng gunung Ararat pada ketinggian lebih dari 3.250 m diatas muka laut. Dari data tersebut tergerak hati saya untuk mencoba-coba menarik garis “ruler” dari posisi ex Perahu Nabi Nuh langsung kearah Pyramid di Giza Mesir. Sebagai hasilnya menyebabkan saya sangat terperanjat, karena garis tersebut persis sama dengan arah axis-diagonal Pyramid yang ke timur-laut. Dalam pada itu juga saya berpendapat bahwa para Fir’aun tentunya tidak pernah mengetahui letak ex Perahu Nabi Nuh, dan mereka tidak punya kepentingan sedikitpun dengannya. Kurun waktu antara pembangunan Pyramid dengan Perahu Nabi Nuh adalah sangat lama sekali, ribuan tahun, jadi pasti arah axis-diagonal Pyramid sama sekali bukanlah atas pengetahuan dan kemauan Fir’aun serta rakyatnya pada waktu itu, yang jelas adalah bahwa axis-axis diagonal ketiga Pyramid itu semuanya sejajar.

Semua itu adalah invention-besar abad-21. Baiklah semua riwayat itu kita cukupkan sekian dulu dan kita kembali kepada hasil pendeteksian citra satelit dengan “Google-Earth”. Dengan adanya dua percobaan tarikan garis “ruler” tersebut diatas, kemudian saya menghubungkan ketiga monumen bersejarah tersebut, menjadi satu segitiga yang sangat besar dengan total panjang sisinya 4.962,5 km, sebuah segitiga keajaiban berskala dunia.

Dari gambaran segitiga besar itu secara pasti dan akurat/mathematis terbukti bahwa axis-diagonal tiga Pyramid di Giza Mesir masing-masing menuju ke ex Perahu Nabi Nuh As di Turki dan juga menuju ke Ka’bah di Makkah Arab Saudi.
Sebagai kesimpulannya, bahwa bangunan Pyramid adalah sebuah monumen dunia yang tidak diragukan lagi keberadaannya, secara fisik memberikan petunjuk kepada keberadaan dua monumen dunia lainnya yaitu ex Perahu Nabi Nuh dan Ka’bah di Masjid Al Harom di Makkah. Inilah satu fenomena berskala dunia sepanjang sejarah kemanusiaan dari jaman Nabi Nuh As, jaman Nabi Musa As sampai sekarang, dan fenomena itu tidak akan hilang dari muka bumi sampai ahir zaman (kiamat).

Dibalik kenyataan fenomena tersebut maka sudah barang tentu mempunyai kaitan dan pasti ada manfaatnya untuk seluruh kemanusiaan didunia ini. Sebagai manusia yang berakal cerdas tentunya kita semua menyadari dari lubuk hati yang paling dalam bahwa fenomena besar itu adalah terjadi atas Kehendak Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa yaitu Allah Swt. Mengapa Allah berkehendak demikian, tiada lain karena dunia dan segala isinya ini adalah Ciptaan-NYA juga, jadi adalah wajar bahwa fenomena berskala dunia yang sudah puluhan ribu tahun itu adalah juga Kehendak-NYA, demi untuk kepentingan kemanusiaan seluruhnya. Baru sekaranglah keberadaan fenomena besar itu terkuak secara jelas dengan bantuan teknologi moderen, semua itu dapat dibuktikan secara actual. Selanjutnya tentunya kita berfikir, dengan adanya satu fenomena besar itu, apakah juga berarti ada “pesan-tersembunyi” didalamnya? Marilah kita merenunginya dan mentafakurinya secara mendalam, karena fenomena besar itu disamping mengkaitkan tiga monument dunia, juga mengkaitkan tiga kurun zaman yang sangat berbeda selama ribuan tahun. Marilah kita merenungi makna dari “pesan- tersembunyi” dibalik tiga kepastian bukti yang sudah ada dan sangat nyata itu.

Untuk bisa menyelami maknanya, sebaiknya kita secara imaginer masuk ke era zaman para Fir’aun dan berdiri diantara Pyramid, setelah (monumen) tiga buah Pyramid itu selesai dibangun, kemudian kita secara imaginer mengikuti arah axis-diagonal ketiga Pyramid tersebut.
Satu arah yang menuju (timur-laut) ke ex Perahu Nabi Nuh, seolah memberikan pesan: “Lihatlah kemenangan dizaman yang sudah lampau yaitu keselamatan bagi kemanusiaan, dimana Nabi Nuh As dan kaumnya telah selamat dari banjir besar, semuanya berkat Petunjuk dari Tuhan”.

Kemudian satu arah lagi yang menuju (tenggara) ke Ka’bah, seolah juga memberikan pesan: “Dan lihatlah juga kemenangan dizaman yang akan datang yaitu keselamatan bagi kemanusiaan atas Petunjuk Tuhan melalui Nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an dan Ahlul-Bayt, sebagai penyelamat seluruh kemanusiaan sampai datangnya hari kiyamat”. Seluruh bukti yang disebutkan diatas adalah nyata, maka “pesan tersembunyi” itupun adalah satu keniscayaan yang nyata pula dan tidak akan pernah terbantahkan, seperti jugamatahari diwaktu siang.

Pada waktu ini kita semuanya dapat menyaksikan semua bukti-bukti tersebut terkuak secara jelas dan pasti, karena kita sudah dan sedang berada dizaman terahir yang menuju ke Hari Kiyamat yang sudah di janjikan-NYA. Yang terpenting untuk kita adalah menentukan sikap dan keputusan apakah kita ingin menjadi manusia yang terselamatkan dengan mengikuti Petunjuk-NYA atau kita ingin mengabaikan semuanya itu, artinya tidak ingin selamat? Semua itu terserah kepada kita masing-masing untuk menentukan pilihan, keputusan dan tanggung jawab pribadi di akhirat kelak. Masih ada cukup waktu untuk berfikir dan memilih serta mengambil keputusan terahir bagi masing-masing secara pribadi. Saya tidak bermaksud mempengaruhi siapapun, hanyalah sebatas memberikan bukti-bukti ilmiyah yang sangat nyata dalam dimensi ruang dan waktu yang tidak terbantahkan sampai datangnya hari kiamat.

Rekor Dunia yang Dipegang oleh Kapal Nabi Nuh

Tolong Anda sebutkan berapa lama jarak masa yang terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi? Tiada penjelasan akurat dokumen-dokumen sejarah terkait dengan berapa jarak masa yang terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi. Namun dalam sebagian literatur disebutkan beberapa hal yang berbeda-beda yang dari kesemua itu dapat ditarik kesimpulan sebagaimana berikut ini:
Jarak Nabi Adam As hingga Nabi Nuh As adalah lebih dari 1.200 tahun lamanya. Jarak antara Nabi Nuh As hingga Nabi Ibrahim As adalah 2.240 tahun. Jarak antara Nabi Ibrahim As hingga Nabi Musa As adalah 900 tahun. Jarak antara Nabi Musa As hingga Nabi Isa As adalah 1.900 tahun. Dan jarak antara Nabi Isa As hingga Nabi Muhammad Saw adalah 620 tahun lamanya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Shadiq As bersabda, “Antara Nabi Nuh As dan Nabi Ibrahim As terbentang jarak seribu tahun lamanya.”

Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera. Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun. Melalui wahyu-Nya, Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Berikut rekor dunia yang dipegang oleh Bahtera Nuh :

1. Bahtera Nuh Dipimpin Oleh Nahkoda Tertua Di Dunia (berusia 600 th).
Ibnu Abbas menceritakan Bahwa nabi Nuh diutus pada kaumnya ketika berumur 480 tahun. Masa kenabiannya adalah 120 tahun dan berdakwah selama 5 abad. Dia mengarungi banjir ketika ia berumur 600 tahun dan kemudian setelah banjir ia hidup selama 350 tahun.

2. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Terbesar Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu.
Ibnu Abbas menceritakan Bahwa Suatu ketika Nabi Isa menghidupkan Ham bin Nuh dan bertanya kepadanya kenapa rambutnya beruban, ia menjawab dia meninggal di saat usia muda karena ketakutannya ketika banjir. Ia berkata bahwa panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan.

3. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia.
Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Bahtera Nuh dianggap merupakan alat angkutan laut pertama di dunia.

4. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu.
Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun.

5. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Angkut Bertingkat Pertama Di Dunia (3 tingkat).
Panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan. Tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan, tingkat kedua ditempatkan manusiaingkat ketiga untuk burung-burung.

6. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Yang Belayar Tertinggi Dari Dasar Laut.
Menurut Al Quran, bahtera Nuh telah mendarat di Bukit Judi. Ada pendapat yang menunjukkan suatu gunung di wilayah Kurdi atau tepatnya dibagian selatan Armenia, ada pendapat lain dari Wyatt Archeological Research, bukit tersebut terletak di wilayah Turkistan Iklim Butan, Timur laut pulau yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai Jazirah Ibnu Umar (Tafsir al-Mishbah).

7. Bahtera Nuh Adalah Kapal Anti Topan Dan Banjir Pertama Di Dunia.
Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir.

8. Bahtera Nuh Adalah Kapal Pertama Yang Berlayar Tanpa Kompas.
Setelah bahtera itu selesai, Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut.

9. Bahtera Nuh Dinahkodai Bukan Ahli Ilmu Kelautan Dan Perbintangan.
Nuh adalah seorang nabi yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Quran. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern.

10. Bahtera Nuh Adalah Satu-Satunya Kapal Angkut Dengan Penumpang Paling Sedikit ertama Di Dunia.
Ibnu Thabari menceritakan setelah kapal berlabuh di pegunungan Ararat, ia kemudian membangun suatukota di daerah Ararat (Qarda) disuatu areal yang termasuk Mesopotamia dan menamakan kota tersebut Themanon (Kota delapan Puluh) karena kota tersebut dibangun oleh orang yang beriman yang berjumlah 80 orang.

11. Bahtera Nuh Adalah Kapal Angkut Yang Mengangkut Jenis Binatang Berpasangan Terbanyak Di Dunia.
Nuh memiliki 4 anak laki-laki: Kan’an, Sem, Ham, dan Yafet. Menurut kitab Kejadian, pada jamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi; hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut.

12. Bahtera Nuh Satu-Satunya Kapal Yang Mendarat Di Gunung.
Berdasarkan foto yang dihasilkan dari gunung Ararat, menunjukkan sebuah perahu yang sangat besar diperkirakan memilik luas 7.546 kaki dengan panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki dan masih ada tiga tingkat lagi diatasnya.

13. Bahtera Nuh Adalah Kapal Yang Mengarungi Banjir Terlama Di Dunia.
Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar-benar kering sebelum membuka pintu bahtera.

Foto-foto Bukti Penemuan Perahu Nabi Nuh

1. Awal Penemuan
Pemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 meter).

Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda mirip perahu di puncak gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang diduga perahu Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark)


2. Foto-foto tahun 1999-2000
Seri pemotretan oleh Penerbangan AS IKONOS tahun 1999-2000 tentang dugaan adanya perahu di Gunung Ararat yang tertutup salju.



3. Peta Lokasi Perahu Nabi Nuh





4.  Tanah berbentuk Perahu Nabi Nuh di atas Gunung Arafat. 



5. Situs Perahu Nabi Nuh sebelum dibersihkan

 
 

6. Pengukuran di Atas Perahu

7. Struktur Perahu menurut para arkeolog yang menemukannya



8. Bentuk Perkiraan Perahu Nabi Nuh AS




source : dari berbagai sumber       


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Jasa Pembuatan Website | Toko Online | Web Bisnis
Copyright © 2011. Nurul Asri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger