Latest Post
Tampilkan postingan dengan label quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quran. Tampilkan semua postingan

Al Baqarah Ayat 278

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
[2:278] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.


Asbabunnuzul

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Bani Umair bin Auf As Saqfi dan Bani Maghirah, dari Bani Makhzum. Keduanya hendak membuat perjanjian dengan Utab bin Asad, Amir Mekah pada waktu itu.
Isinya berupa permohonan agar praktik riba di kalangan kedua kabilah tersebut diperbolehkan, sedangkan semenjak  Fathu Makkah, segala macam praktik riba telah diharamkan. Amir Mekah kemudian meminta saran kepada Rasulullah saw. Lalu, turunlah ayat ini yang ditegaskan dengan ancaman bagi yang melanggarnya.

Tafsir

Dengan ayat ini, Allah memerintahkan hambanya untuk beriman dan bertakwa melalui meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhi hambanya dari keridhaan-Nya. Makna dari “tinggalkan sisa riba” di sini adalah tinggalkanlah hartamu yang merupakan kelebihan dari pokok yang harus dibayarkan oleh orang lain. Pada ayat selanjutnya, dijelaskan pula bahwa apabila sisa riba tersebut tidak ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman, maka Allah dan Rasul-Nya akan memerangi pada pengambil riba tersebut. Dan ayat selanjutnya pula menjelaskan bahwa apabila terdapat orang yang sedang berhutang sedang mengalami kesulitan dalam melunasi hutangnya, hendaknya diberikan penangguhan hingga dirinya memiliki kelapangan harta. Apabila orang tersebut tidak mampu membayarnya, akan lebih baik untuk direlakan dan akan dianggap sebagai sedekah di sisi Allah.
Dengan prinsip membebaskan orang dari kesulitan, riba menjadi salah satu hal yang sangat dilarang untuk dipraktekkan dan dijanjikan untuk diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya apabila orang-orang beriman tidak meninggalkannya setelah diberikan peringatan. Meminta tambahan atas keterlambatan pelunasan merupakan praktek riba, walaupun terkadang hal tersebut dilakukan untuk mendorong orang tersebut supaya cepat melunasi hutangnya, namun hal tersebut merupakan hal yang buruk di sisi Allah karena menyedekahkannya dengan tujuan meringankan beban orang yang berhutang adalah jauh lebih baik dan mendatangkan keridhaan-Nya.

Demikian sedikit penafsiran yang beberapa diambil dari ringkasan tafsir Ibnu Katsir.

Al-Qur'an

Al-Qur'an

Al Qur'an
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,
Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih. Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya sebagaimana tetapnya kalung pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah, maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk keselamatan dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi kerugian dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

 Al-Qur'an Terdiri dari 114 Surat :
001.  Al-Fatiha –  ( The Opening ) – Pembukaan
002.  Al-Baqara –  ( The Cow ) – Sapi Betina
003.  Al-‘Imran – ( The Family Of ‘Imran, The House Of ‘Imran ) – Keluarga Imran
004.  An-Nisa’ –  ( Women ) – Wanita
005.  Al-Ma’ida –  ( The Table, The Table Spread ) – Hidangan
006.  Al-An‘am –  ( Cattle, Livestock ) – Binatang Ternak
007.  Al-A‘raf –  ( The Heights ) – Tempat Tertinggi – Video
008.  Al-Anfal –  ( Spoils Of War, Booty ) – Harta Rampasan Perang
009.  At-Tawba –  ( Repentance, Dispensation ) – Pengampunan
010.  Yunus –  ( Jonah ) – Nabi Yunus
011.  Hud –  ( Hud ) – Nabi Hud
012.  Yusuf –  ( Joseph ) – Nabi Yusuf
013.  Ar-Ra‘d –  ( The Thunder ) – Guruh
014.  Ibrahim – ( Abraham ) – Nabi Ibrahim
015.  Al-Hijr –  ( Stoneland, Rock City ) – Negri Kaum Samud
016.  An-Nahl –  ( The Bee ) – Lebah
017.  Al-Isra’ – ( The Night Journey, Children Of Israel ) – Perjalanan Malam Hari – Video
018.  Al-Kahf –  ( The Cave ) – Gua
019.  Maryam –  ( Mary ) – Maryam
020.  Ta Ha –  ( Ta-ha ) – Ta Ha
021.  Al-Anbiya’ –  (  The Prophets ) – Nabi Nabi – Video
022.  Al-Hajj –  ( The Pilgrimage ) – Haji
023.  Al-Muminun -  ( The Believers ) – Orang-Orang Mukmin – Video
024.  An-Nur –  ( Light ) – Cahaya
025.  Al-Furqan –  ( The Criterion, The Standard ) – Pembeda
026.  Ash-Shu‘ara –  ( The Poets ) – Para Penyair
027.  An-Naml –  ( The Ant, The Ants ) – Semut
028.  Al-Qasas –  ( The Story, Stories ) – Cerita cerita
029.  Al-‘Ankabut –  ( The Spider ) – Laba laba
030.  Ar-Rum –  ( The Romans, The Byzantines ) – Bangsa Romawi – Video
031.  Luqman –  ( Luqman ) – Luqman
032.  A s-Sajda –  ( The Prostration, Worship, Adoration ) – Sujud
033.  Al-Ahzab –  ( The Coalition, The Combined Forces ) – Golongan yang Bersekutu
034.  Saba’ –  ( Sheba ) – Kaum Saba’
035.  Fatir –  ( The Angels, Orignator ) – Pencipta
036.  Ya Sin – ( Ya-sin ) – Ya Sin
037.  As-Saffat –  ( Those Who Set The Ranks, Drawn Up In Ranks ) – Yang ber Saf Saf
038.  Sâd –  ( (the Letter) Sad ( S ) ) – Sad
039.  Az-Zumar –  ( The Troops, Throngs ) – Rombongan-Rombongan – Video
040.  Ghafir –  ( The Believer, The Forgiver (god) ) – Orang yang BerIman
041.  Fussilat –  ( Signs ) – Yang Dijelaskan – Video
042.  Ash-Shura –  ( Councel, Consultation ) – Musyawarah
043.  Az-Zukhruf –  ( Ornaments Of Gold, Luxury ) – Perhiasan
044.  Ad-Dukhan –  ( Smoke ) – Kabut
045.  Al-Jathiyya –  ( Crouching ) – Yang berlutut
046.  Al-Ahqaf –  ( The Wind-curved Sandhills, The Dunes ) – Bukit-Bukit Pasir
047.  Muhammad –  ( Muhammad ) – Nabi Muhamad SAW
048.  Al-Fath –  ( Victory, Conquest ) – Kemenangan
049.  Al-Hujurat –  ( The Private Apartments, The Inner Apartments ) – Kamar-Kamar
050.  Qaf –  ( (the Letter), (Q) ) – Qaf
051.  Adh-Dhariyat –  ( The Winnowing Winds ) – Angin yang Menerbangkan
052.  At-Tur –  ( The Mount ) – Bukit
053.  An-Najm –  ( The Star ) – Bintang
054.  Al-Qamar –  ( The Moon ) – Bulan
055.  Ar-Rahman –  ( The Beneficent, The Mercy Giving ) – Yang Maha Pemurah – Video
056.  Al-Waqi‘a –  ( The Event, The Inevitable ) – Hari Qiyamat
057.  Al-Hadid –  ( Iron ) – Besi
058.  Al-Mujadala – ( She That Dispute, The Pleading Woman ) – Wanita Yg MengGugat
059.  Al-Hashr –  ( Exile, Banishment ) – Pengusiran
060.  Al-Mumtahana – ( She That Is To Be Examined, Examining Her ) – Wanita yang di Uji
061.  As-Saff –  ( The Ranks, Battle Array ) – Barisan
062.  Al-Jumu‘a –  ( The Congregation, Friday ) – Hari Jum’at
063.  Al-Munafiqun – ( The Hypocrites ) – Orang-Orang Munafiq
064.  At-Taghabun – ( Mutual Disillusion, Haggling ) – Hari ditampakkan segala kesalahan
065.  At-Talaq –  ( Divorce ) – Perceraian
066.  At-Tahrim –  ( Banning, Prohibition ) – Mengharamkan
067.  Al-Mulk –  ( The Sovereignty, Control ) – Kerajaan
068.  Al-Qalam –  ( The Pen, (the Letter) N ) – Kalam
069.  Al-Haqqa –  ( The Reality ) – Hari Kiamat
070.  Al-Ma‘arij –  ( The Ascending Stairways, Staircases Upward ) – Tempat-tempat Naik
071.  Nuh –  ( Noah ) – Nabi Nuh
072.  Al-Jinn –  ( The Jinn, Sprites ) – Jin
073.  Al-Muzzammil –  ( The Enshrouded One, Bundled Up ) – Orang yang Berselimut
074.  Al-Muddaththir – ( The Cloaked One, The Man Wearing A Cloak ) – Orang yang Berkemul
075.  Al-Qiyama –  ( The Rising Of The Dead, Resurrection ) – Hari Kiamat
076.  Al-Insan –  ( Time, Man, (every) Man, This (day-and-) age ) – Manusia
077.  Al-Mursalat –  ( The Emissaries, Winds Sent Forth ) – Malaikat Malaikat yang Diutus
078.  An-Naba’ –  ( The Tidings, The Announcement ) – Berita besar
079.  An-Nazi‘at – ( Those Who Drag Forth, Soul-snatchers ) – Malaikat yang Mencabut
080.  ‘Abasa –  ( He Frowned! ) – Ia bermuka Masam
081.  At-Takwir –  ( The Overthrowing, Extinguished! Wrapping Things Up ) – Menggulung
082.  Al-Infitar –  ( The Cleaving, Bursting Apart ) – Terbelah
083.  Al-Mutaffifin –  ( Defrauding, The Cheats, Cheating ) – Kecurangan
084.  Al-Inshiqaq –  ( The Sundering, Splitting Open ) – Terbelah
085.  Al-Buruj –  ( The Mansions Of The Stars, Constellations ) – Gugusan Bintang
086. At-Tariq – ( The Morning Star, The Night comer ) – Yang Datang DiMalam Hari – Video
087.  Al-A‘la –  ( The Most High, Glory To Your Lord In The Highest ) – Yang Paling Tinggi
088.  Al-Ghashiyya –  ( The Overwhelming, The Pall ) – Hari Pembalasan
089.  Al-Fajr –  ( The Dawn, Daybreak ) – Fajar
090.  Al-Balad –  ( The City, This Countryside ) – Negeri
091.  Ash-Shams –  ( The Sun ) – Matahari
092.  Al-Layl –  ( The Night ) – Malam
093.  Ad-Duha –  ( The Morning Hours, Morning Bright! ) – Waktu Dhuha
094.  Al-Inshirah –  ( Solace, Consolation, Relief ) – Kelapangan
095.  At-Tin –  ( The Fig, The Figtree ) – Buah Tin
096.  Al-‘Alaq –  ( The Clot, Read! ) – Segumpal Darah
097.  Al-Qadr – ( Power, Fate ) – Kemuliaan
098.  Al-Bayyina –  ( The Clear Proof, Evidence ) – Bukti yang Nyata
099.  Az-Zilzal – ( The Earthquake ) – Keguncangan
100.  Al-‘Adiyat –  ( The Courser, The Chargers ) – Kuda Perang yang berlari Kencang
101.  Al-Qari‘a –  ( The Calamity, The Stunning Blow, The Disaster ) – Hari Kiamat
102.  At-Takathur –  ( Rivalry In World Increase, Competition ) – Bermegah-megah
103.  Al-‘Asr –  ( The Declining Day, Eventide, The Epoch ) – Masa
104.  Al-Humaza –  ( The Traducer, The Gossipmonger ) – Pengumpat
105.  Al-Fil –  ( The Elephant ) – Gajah
106. Quraysh –  ( Winter, Quraysh ) – Suku Quraysh
107.  Al-Ma‘un –  ( Small Kindnesses, Almsgiving, Have You Seen? ) – Barang yang berguna
108.  Al-Kawthar –  ( Abundance, Plenty ) – Nikmat yang Banyak
109.  Al-Kafirun –  ( The Disbelievers, Atheists ) – Orang-Orang Kafir
110.  An-Nasr –  ( Succour, Divine Support ) – Pertolongan
111.  Al-Masad –  ( Palm Fibre, The Flame ) – Gejolak Api
112.  Al-Ikhlas –  ( The Unity, Sincerity, Oneness Of God ) – Memurnikan keEsaan Allah
113.  Al-Falaq –  ( The Daybreak, Dawn ) – Waktu Subuh
114.  An-Nas –  ( Mankind ) – Manusia

Asmaul Husna

Asmaul Husna ( 99 Nama Allah )

Asmaul Husna
Dalam agama Islam, Asmaa’ul husna adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi asma’ul husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia
(QS. Al-Ikhlas : 1-4)
Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya.
Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta’ala.

Dialah Allah, tidak ada Tuhan/Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaa’ul husna (nama-nama yang baik).
(Q.S. Thaa-Haa : 8)
 Asma’ul husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, Gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah.






Pelajaran Dari Hud Hud

Pelajaran Dari Hud Hud

Hud Hud
"Dan telah dihimpunkan bagi Sulaiman bala tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)." (An Naml: 17)
"Dan dia memeriksa burung-burung lantas berkata: "Mengapa aku tidak melihat (burung) hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?" (An Naml: 20)

Sebagaimana disitir dalam ayat di atas, bahwa jumlah pasukan nabi Sulaiman amat banyak dan beraneka ragam, dari bangsa jin, manusia dan hewan.

Meski begitu, nabi Sulaiman tidak pernah lengah terhadap anggota pasukan yang ada di bawah kepemimpinannya. Sebagai pemimpin, ia harus memeriksa dan mengetahui keadaan bawahannya. Ia berkewajiban mengayomi sekaligus memperbaiki keadaan mereka. Perhatian itu tak saja ditujukan kepada tangan kanan dan orang-orang terdekatnya, tetapi menyeluruh sampai pada pasukan tingkat paling bawah. Karena itu, burung -yang nota bene juga anggota pasukannya- memiliki hak yang sama untuk diperhatikan.

Hal semacam ini tentu tidak akan terjadi kecuali dalam kehidupan para nabi dan orang-orang beriman. Mereka takut, sebab semua hak tersebut akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah Ta'ala . Sebab, masalah kepemimpinan adalah masalah yang sangat besar dan berat.

Berbeda halnya dengan mereka yang lemah akidah dan agamanya. Para penguasa yang kehilangan akidah dan agamanya akan sama sekali tidak memperhatikan rakyatnya, berbuat zhalim dan semena-mena untuk kepentingan sendiri, kerabat atau kelompok-nya. Ia tak akan peduli dengan burung, tak memperhatikan hewan dan tak memikirkan bagaimana manusia yang ada di bawah tanggung jawabnya dapat hidup. Tidak peduli apakah mereka tinggal di rumah-rumah, istana atau malah tidur di kolong jembatan dan trotoar.

Tidak ambil pusing apakah mereka makan, minum atau tidak mendapatkan makanan meski hanya sesuap. Tidak jadi soal apakah mereka hidup dengan aman atau selalu dalam kekhawatiran dan teror. Tidak masalah apakah tanah yang mereka tempati itu subur dan laik huni atau malah kering dan rawan gempa.Tak peduli apakah airnya cukup memadai atau malah sering ditimpa banjir sehingga banyak menelan korban. Tidak peduli apakah mereka dikuburkan atau dilempar ke laut sehingga menjadi santapan ikan dan hewan air lainnya. Para penguasa itu hidup dan memerintah tetapi rakyat tidak merasakan manfaatnya, bahkan rakyat cenderung sengsara. Karena itu jika mereka mati tiada seorangpun yang merasa kehilangan atas kepergiannya.

Demikianlah, bila syari'at Allah Ta'ala ditinggalkan maka para penguasa tersebut tidak akan memperhatikan kecuali kepentingan mereka sendiri, menumpuk-numpuk harta duniawi sehingga melupakan nasib rakyatnya, sibuk akan pangkat dan simbol-simbol kekuasaan dan berbagai tindakan lain yang pada umumnya merugi-kan kepentingan umum. Mereka melupakan bahwa semua itu akan berakhir dan akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala.

Lihatlah Fir'aun, ia begitu berham-buran dengan berbagai macam kenikmatan. Pakaiannya bertahtakan emas permata, kendaraannya sangat banyak serta pilihan, tinggal di istana kebesaran yang amat megah, para tentara mengawalnya di segala arah, semua serba glamour dan mewah.

Tapi ketika ia sombong dan bangga diri, mengklaim tiada seorangpun yang dapat menandingi kekuasaannya di seantero planet bumi, lalu memperbudak dan meng-hinakan bangsa Mesir, rakyatnya. Maka ketika semua tindakan kezhalimannya mencapai puncak, ia mengaku dirinya sebagai tuhan, ketika itulah dengan izin Allah ia meninggal secara tragis. Tenggelam di dasar laut dan tewas di bawah tapak kaki kudanya. Menjelang kematiannya, ia baru sadar lantas meminta tolong, tapi tak seorang pun menolongnya. Mengemukakan alasan, tapi hal itu tidak diterima. Allah berfirman:

"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena ingin menganiaya dan menindas (mereka), hingga bila Fir'aun itu hampir tenggelam, ia berkata: "Saya percaya bahwasanya tiada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu kala, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaaan Kami." (Yunus: 90-92)

Apakah para penguasa di kolong langit ini tidak mau mengambil pelajaran? Padahal Allah telah berfirman:
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaaf: 37)

Bagi Sulaiman, walaupun tentaranya terlalu banyak, demikian pula amanat dakwah yang diembannya sangatlah berat, tetapi beliau tetap memperhatikan hud-hud, seekor personil tentara dari lasykar burung. Hal yang sama pula, telah dilakukan oleh mukminin pilihan. Lihatlah Umar bin Khathab, pada suatu malam di sudut jalan kota Madinah, ia berjanji kepada seorang nenek buta untuk menolong dan menunai-kan semua keperluannya. Ketika Umar mendatanginya, ternyata orang lain telah mendahului menolong nenek tersebut. Berkali-kali Umar datang, tetapi ia selalu didahului oleh orang lain. Maka Umarpun mengintip siapa gerangan orang yang mendahuluinya tersebut? Umar lalu tahu, orang itu adalah Abu bakar yang ketika itu sedang manjabat sebagai khalifah.

Dari bibi Khubaib bin Abdur Rahman, ia berkata: "Abu Bakar selalu mendatangi kami selama tiga tahun, dua tahun sebelum ia diminta menjadi khalifah dan setahun sesudah ia menjadi khalifah. Anak-anak perempuan di kampung selalu mendatangi-nya sambil membawa kambing-kambing mereka, lantas Abu Bakar memerah susu kambing-kambing tersebut untuk mereka."

Suatu malam sebagaimana biasa, khalifah Umar mengadakan ronda. Tiba-tiba ia mendengar tangis dari sebuah rumah. Umarpun mendekat. Akhirnya beliau dapati beberapa anak kecil menangis dengan seorang ibu yang berusaha menenangkan mereka sambil menunjuk-nunjuk sebuah periuk (tempat memasak). Umar bertanya kepada sang ibu: "Kenapa anak-anak menangis?" Ia menjawab: "Mereka menangis sebab kelaparan." "Lalu apa yang kau tanak dalam periuk itu?" "Saya merebus batu agar dikira daging sehingga mereka berhenti menangis."

Umar spontan terduduk lemas dan haru, lantas menangis, lalu bangkit menuju Baitul Mal. Ia masukkan gandum, keju, kurma, daging, pakaian dan uang ke karung hingga penuh. Kepada penjaganya ia berkata: "Wahai Aslam, tolong angkatkan karung ini ke pundakku!" Aslam menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, biarlah saya saja yang membawanya". Dengan keras Umar membentak: "Hai Aslam. saya yang harus memikulnya, karena sayalah yang harus bertanggung jawab nanti di akherat." Maka ia pun memikul sekarung bahan makanan itu hingga sampai ke rumah wanita tersebut. Dengan segera wanita itu memasak makanan lalu anak-anaknya makan dengan lahap sampai kenyang, sehingga riang gembira." (Usudul Ghabah: 3/ 328)

"Mengapa aku tidak melihat hud-hud?..." (An Naml: 20)

Ketika melakukan inspeksi pasukan, Nabi Sulaiman tidak melihat burung hud-hud, sehingga beliau menanyakannya kepada anggota pasukan yang lain.

Ini adalah pertanda betapa Sulaiman amat memperhatikan semua rakyatnya, meski dari golongan papa sekalipun. Burung hud-hud adalah burung kecil yang hampir tak kelihatan di antara lautan rakyat beliau. Apatah lagi kerajaannya meliputi alam manusia, jin dan hewan. Subhanallah.
Sungguh amat jauh berbeda dengan kondisi para penguasa sekarang. Ada orang yang baru diberi wewenang untuk menye-lenggarakan kontrak kerja sebuah proyek. Ia cuman membawahi sekian ratus pekerja dengan devisi pekerjaan masing-masing. Mungkin -dan ini kebanyakan terjadi- orang yang diberi kuasa tersebut tidak mengetahui sama sekali perihal orang-orang yang dipimpinnya, apatah lagi kesulitan-kesulitan yang dialami masing-masing karyawan.

Ada orang yang diberi amanat untuk mengembangkan suatu metode pengajaran. Dengan tidak mengetahui dan memeriksa terlebih dahulu sistem pengajaran Islam, mereka serta merta menuduh bahwa materi-materi keislaman tak lagi relevan bagi kemajuan zaman, maka ia harus ditinggal-kan ataumaksimal diberikan dengan waktu yang amat singkat. Akhirnya orang tua atau keluarga yang nota bene banyak belum memahami Islam dibebani untuk memberikan pendidikan Islam. Hasilnya pasti bisa ditebak. Anak-anak menjadi liar, jauh dari agama dan menghalalkan segala cara.

Ada yang serta merta menuduh bahwa orang-orang yang berusaha menjalankan Islam secara sempurna sebagai ekstrimis, fundamentalis dan berbagai tuduhan lain yang menyudutkan. Atas dasar apa mereka menilai orang-orang yang berusaha lurus itu sebagai para ekstrimis atau fundamentalis? Sudahkah diteliti secara benar? Betulkah dalam menilai tidak disertai unsur dengki dan benci? Berapa banyak korban -baik secara kejiwaan atau nyawa- dari tuduhan yang keliru itu? Tidakkah lebih baik bagi para penguasa untuk selalu memperhatikan dan mengayomi rakyat, daripada menyebar-kan tuduhan dan mata-mata di banyak tempat? Adapun Nabi Sulaiman, beliau menegaskan kepeduliannya kepada rakyat kecil dengan mengatakan: "Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud? Apakah dia termasuk yang tidak hadir?" (An Naml: 20)

Nabi Sulaiman tidak memutuskan suatu hukum kecuali berdasarkan ilmu dan bukti nyata. Beliau tak langsung menvonis, tapi terlebih dulu menanyakan keberadaan hud-hud. Mungkin pandangan beliau yang kurang jeli atau terhalang sesuatu sehingga tidak melihatnya atau bisa jadi burung itu terkena musibah sehingga berhalangan hadir. Agar tak menghukumi sesuatu secara gegabah itulah, maka beliau menanyakan-nya terlebih dahulu.
Betapa pada saat ini kita sangat membutuhkan tabayyun (kejelasan masalah) sebelum memutuskan suatu hukum.

Lihatlah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, ketika beliau yang pada saat itu sedang khutbah melihat Sulaik Al Ghathfani yang langsung duduk saat menghadiri Jum'at. Nabi bertanya:"Hai Sulaik, sudahkah anda Shalat?" Nabi tidak langsung menvonis tetapi beliau bertanya terlebih dahulu. Sebab siapa tahu sahabat tersebut telah shalat di tempat lain kemudian mendekat untuk lebih jelas mendengar khutbah. Baru setelah ia menjawab, belum Ya Rasul, maka Nabi memerintahkannya: "Berdiri dan shalatlah dua rakaat." (HR. Muslim)
Ucapannya: "Sungguh aku benar-benar akan menyiksanya dengan siksa yang keras, atau menyembelihnya kecuali jika benar-benar ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas." (An Naml: 21)

Ucapan di atas menunjukkan ketegasan terhadap para tentara. Tentara yang melanggar perlu mendapatkan hukuman setimpal atau dimaafkan jika memang mempunyai alasan yang bisa diterima. Seorang pemimpin tidak boleh gegabah memberi keputusan kecuali setelah mendapat keyakinan tentang hakekat masalah yang sedang dihadapi.

Nabi Sulaiman mengancam hud-hud yang tidak hadir. Tetapi tidak dengan keputusan akhir sebelum beliau sendiri mendengar alasannya. "Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud)," (An Naml: 22)
(Hud-hud) berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya." (An Naml: 22)
Ucapan di atas menegaskan kebatilan Rafidhah yang berpendapat bahwasanya imam mengetahui segala sesuatu dan tidak seorang pun yang sezaman dengannya lebih tahu dari padanya. Juga membatalkan kepercayaan para sufi yang berpendapat bahwa para guru mereka mengetahui hal-hal yang gaib.

Tidak seorang pun tahu akan hal-hal yang gaib kecuali Allah semata.
"Katakanlah: "Tiada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui kapan akan dibangkitkan?" (An Naml: 65)

Seorang Nabi Sulaiman pun tidak mengetahui kerajaan Saba', padahal kerajaan itu cukup dekat. Hal yang sama juga dialami oleh nabi Ya'kub. Beliau tidak mengetahui di mana tempat Nabi Yusuf, puteranya tercinta yang dibuang oleh para saudaranya. Demikian pula Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau tidak mengetahui kabar langit tentang fitnah keji yang menimpa Aisyah isteri tercinta, sehingga terpaksa beliau memulangkannya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, orang tuanya.

Jika para rasul dan nabi Allah tidak mengetahui masail ghaibiyah , apatah lagi dengan orang biasa lainnya. Hal ini sebagai motivasi agar makhluk tidak bergantung kepada makhluk lainnya. Mereka seyogya-nya mengembalikan semua persoalan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sebuah teladan yang indah ketika hud-hud yang mungil, dengan tegas mengatakan kepada Nabi Sulaiman: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya." Dan Nabi Sulaiman pun tidak mengingkari ucapan tersebut.

Disarikan dari: Majalah "At- Tauhid", edisi 12/ 1415 oleh Syaikh Muhammad Razaq Sathur. Dialihbahasakan oleh Ainul Haris, Lc

Pengertian al-Qur'an

Pengertian al-Qur'an

Al Qur'an
Secara Bahasa (Etimologi)

Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro-’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) [keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Anda dapat menuturkan, Qoro-’a Qor’an Wa Qur’aanan (قرأ قرءا وقرآنا) sama seperti anda menuturkan, Ghofaro Ghafran Wa Qhufroonan (غفر غفرا وغفرانا). Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a) maka ia adalah mashdar dari Ism Faa’il, artinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi) karena ia mengumpulkan/mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum.*

Secara Syari’at (Terminologi)

Adalah Kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad SAW, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (al-Insaan:23)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf:2)

Allah SWT telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia SWT telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesunggunya Kami-lah yang menunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benr-benar memeliharanya.” (al-Hijr:9)

Oleh karena itu, selama berabad-abad telah berlangsung namun tidak satu pun musuh-musuh Allah yang berupaya untuk merubah isinya, menambah, mengurangi atau pun menggantinya. Allah SWT pasti menghancurkan tabirnya dan membuka kedoknya.

Allah SWT menyebut al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkahan, pengaruhnya dan universalitasnya serta menunjukkan bahwa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.

Allah SWT berfirman, “Dan sesunguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung.” (al-Hijr:87)

Dan firman-Nya, “Qaaf, Demi al-Quran yang sangat mulia.” (Qaaf:1)

Dan firman-Nya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad:29)

Dan firman-Nya, “Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka iktuilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (al-An’am:155)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia.” (al-Waqi’ah:77)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan ) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang menjajakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang benar.” (al-Isra’:9)

Dan firman-Nya, “Kalau sekiranya kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu kaan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (al-Hasyr:21)

Dan firman-Nya, “Dan apabila diturunkan suatu surat, mka di antara mereak (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini.? ‘ Adapun orang-orang yang berimana, maka surat ini menambah imannya sedang mereka merasa gembira # Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (at-Taubah:124-125)

Dan firman-Nya, “Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya)…” (al-An’am:19)

Dan firman-Nya, “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang benar.” (al-Furqan:52)

Dan firman-Nya, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl:89)

Dan firman-Nya, “Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian* terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan…” (al-Maa’idah:48)

Al-Qur’an al-Karim merupakan sumber syari’at Islam yang karenanya Muhammad SAW diutus kepada seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman,

Dan firman-Nya, “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (al-Furqaan:1)

Sedangkan Sunnah Nabi SAW juga merupakan sumber Tasyri’ (legislasi hukum Islam) sebagaimana yang dikukuhkan oleh al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (an-Nisa’:80)

Dan firman-Nya, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab:36)

Dan firman-Nya, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” (al-Hasyr:7)

Dan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran:31)


CATATAN KAKI:

* Maksudnya, al-Qur’an adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab yang sebelumnya. (al-Qur’an dan terjemahannya, DEPAG RI)

(SUMBER: Ushuul Fii at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin, hal.9-11)

Popular post

 
Support : Jasa Pembuatan Website | Toko Online | Web Bisnis
Copyright © 2011. Nurul Asri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger