Latest Post

Jabal Rahmah, Monumen Cinta Adam dan Hawa


Jabal Rahmah, Monumen Cinta Adam dan Hawa

Jabal Rahmah terletak di tepi padang Arafah yang merupakan daerah di pinggiran timur Makkah. Tempat legendaris ini tak pernah sepi dari jamaah Haji maupun Umroh terutama jamaah Haji asal Indonesia. Konon, Sejarah Jabal Rahmah merupakan titik pertemuan  antara Nabi Adam dan Hawa setelah masing-masing terpisah di antara ujung dunia. Di titik itulah kini berdiri monumen putih tanda pertemuan kedua manusia pertama tersebut. 
Terdapat banyak tempat-tempat yang menyimpan cerita dan sejarah para nabi di Tanah Suci Mekkah,  seperti Arafah, Mina, gua Hira, Hudaibiyah, dan Jabal Rahmah. Jamaah Haji dan Umroh sering melakukan ziarah ke tempat-tempat tersebut. Salah satu tempat paling bersejarah adalah Jabal Rahmah.




Jabal Rahmah tidak jauh dari Padang Arafah, dimana jamaah Haji menunaikan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Dari asal katanya, rahmah berarti kasih sayang. Sebuah nama yang diambil dari kisah masyhur di kalangan umat Islam, kisah pertemuan antara Adam dan Hawa setelah sekian lama tak berjumpa. Ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, mereka ditempatkan secara terpisah.
Sebagai  pengingat moment pertemuan itu,  di atas Jabal Rahmah ada sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi panjang dengan lebar 1,8 meter dan tinggi 8 meter. Masyarakat setempat percaya, lokasi pertemuan Adam dan Hawa adalah persisi di titik bangunan  monumen putih itu.



Jabal Rahmah sendiri merupakan  bukit batu. Tingginya hanya sekitar 70 meter dan bisa dinaiki melewati batu-batuan terjal. Perjalanan dari bawah kaki bukit hingga sampai ke monumen Adam dan Hawa biasanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja.
Meski Ulama Saudi sendiri sudah menegaskan bahwa berziarah ke Jabal Rahmah bukanlah hal yang disunnahkan apalagi diwajibkan, nyatanya banyak peziarah berdatangan dan berdoa menengadahkan tangan di sana saat wukuf. Lebih-lebih jamaah Indonesia, mereka memadati bukit ini saat wukuf tanggal 9 Dzulhijjah. Tak heran jika kita dapati coretan-coretan nama-nama orang Indonesia di tugu monumen putih.  
Pemandangan Padang Arafah yang dapat dilihat dengan jelas dari puncak Jabal Rahmah menjadi pesona tersendiri. Pemandangan indah saksi bisu reuni Adam dan Hawa di bumi.
Banyak yang percaya, jika berdoa minta  jodoh di Jabal Rahmah maka akan cepat terkabul permintaan tersebut. Hal ini juga yang menjadi daya tarik jamaah.

view Jabal Rahmah dari Kejauhan


Anda tertarik mengunjungi bukit cinta  Jabal Rahmah? Banyaklah berdoa dan mulai menabung untuk biaya Haji dan Umroh ke tanah suci. 

Jabal Uhud - Gunung yang Disebut Nabi Kelak Ada di Surga

Jabal Uhud - Gunung yang Disebut Nabi Kelak Ada di Surga

Jabal Uhud adalah bukit yang dijanjikan di surga. Tak seperti umumnya gunung di Madinah, Jabal Uhud seperti sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung yang lain. Karena itulah penduduk Madinah menyebutnya dengan sebutan Jabal Uhud yang artinya 'bukit menyendiri'.

"Jika kita ingin melihat bukit yang ada di surga, maka ziarahlah ke Bukit Uhud. Nabi SAW bersabda, 'Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga'," demikian hadis yang dirawikan HR Bukhari.


Bukit Uhud atau Jabal Uhud adalah sebuah bukit berjarak 5 kilometer dari utara Kota Madinah dengan ketinggian sekitar 1.077 meter, selalu dikenang oleh umat Islam karena di lembah gunung ini pernah terjadi peperangan besar antara pejuang Islam dan kaum kafir Quraisy pada 15 Syawal 3 Hijriyah (Maret 625 Masehi) yang menyebabkan 70 pejuang Islam mati syahid.


Rasulullah SAW bersama Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar Al-Faruq RA, dan Sayyidina Usman bin Affan RA. Setelah keempatnya berada di puncak, terasa Gunung Uhud bergetar.

Rasulullah kemudiannya menghentakkan kakinya dan bersabda, "Tenanglah kamu Uhud. Di atasmu sekarang adalah Rasulullah dan orang yang selalu membenarkannya." Tak lama setelah itu Uhud berhenti bergetar. Demikianlah tanda kecintaan dan kegembiraan Uhud menyambut Rasulullah.


Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kelompok musyrikin Mekah sekitar 3.000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin yang gugur sampai 70 orang syuhada, di antaranya paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muththalib, yang digelari Asa­Dullah wa Asadur Rasul (Singa Allah dan Rasul-Nya), Mush'ab bin Umair, dan Abdullah bin Jahsyin.


Para syuhada itu dimakamkan di tempat mereka gugur, di sekitar Gunung Uhud. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. Dan sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai untuk Rasul gugur karena badannya dipenuhi anak panah.


Pemakaman Syuhada

Makam Syuhada Uhud termasuk Paman Nabi Hamzah, 
Setelah perang usai dan kaum musyrikin mengundurkan diri kembali ke Mekah, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan di tempat mereka roboh, sehingga ada satu liang kubur terdiri dari beberapa syuhada.



Muhammad SAW bersabda, "Mereka yang dimakamkan di Uhud tak memperoleh tempat lain kecuali ruhnya berada di dalam burung hijau yang melintasi sungai surgawi. Burung itu memakan makanan dari taman surga, dan tak pernah kehabisan makanan. Pada syuhada itu berkata siapa yang akan menceritakan kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga."


Maka Allah berkata, "Aku yang akan memberi kabar kepada mereka." Maka dari situ kemudian turun ayat (Qs 3:169) yang berbunyi, "Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu meninggal."


46 Tahun kemudian, yaitu pada masa Khalifah Marwan bin Hakam, terjadi banjir besar sehingga makam Hamzah dan Abdullah bin Jahsyin rusak berat. Ternyata, meski sudah lebih dari 40 tahun di dalam kubur, jasad kedua sahabat itu masih segar, seperti baru saja meninggal. Maka jasadnya dikubur di tempat lain tapi masih di kawasan Gunung Uhud.


Pada tahun 1383 H, dibangun tembok tinggi yang mengelilingi makam Hamzah dengan celah-celah jeruji, agar peziarah dapat menyaksikan makam tersebut. Di dalam areal pemakaman tidak ada tanda-tanda khusus seperti batu nisan, yang menandakan ada makam di sana.

Kecintaan Rasulullah kepada para syuhada Uhud, terutama Hamzah mendorong beliau melakukan ziarah ke Jabal Uhud hampir setiap tahun. Jejak ini diikuti pula oleh beberapa khalifah setelah Rasul wafat.

Dengan demikian Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk diziarahi oleh para pengunjung, khususnya jemaah haji.




Peta Wilayah Madinah

Peta Wilayah Madinah 


Analisa Peta



Madinah (sebelumnya bernama Yatsrib) dikelilingi oleh perkampungan kabilah-kabilah besar penduduk dari suku Arab dan Yahudi. Masjid Nabawi berada di tengah-tengan Madinah. Di bagian utara terdapat bani Haritsha, bani Abdul Asy’al, bani Abdul Harits dari khazraj. Di timur terdapat bani Najjar. Di barat terdapat bani Salamah. Di bagian selatan terdapat bani Zuraiq, bani Al Harits, bani waqif, bani Sa’idah, bani Bayidhah, bani Habby, bani Aur dari Khazraj, bani Unaif, bani Auf bin Malik, bani Jahja. Di tenggara terdapat perkampungan Yahudi : bani Qainuqa’, bani Quraizhah, bani Nadhir, dan perkampungan-perkampungan lainnya. Ada pula beberapa masjid yang pertama-tama dibangun Rasulullah, yaitu Masjid Sabaq, disebelah utara terdapat Masjid Nabawi dan masjid Al Fath di dekat Bukit Sala', disebelah barat Masjid Nabawi. Terdapat pula Masjid Quba' di Quba'


Sejarah Kota Madinah

Madinah Al Munawarah adalah kota suci kedua bagi umat Islam. Di sanalah terletak Masjid Nabawi yang didirikan tahun 622 atau tahun pertama hijriah, setelah Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Dulu kota ini bernama Yatsrib. Setelah Rasulullah SAW hijrah ke kota ini, Yatsrib dikenal dengan nama “Madinatur Rasul”. Kemudian, orang menyebut kota ini dengan “Al-Madinah”.
Ketika Rasulullah masuk Madinah, kaum Anshar mengelu-elukan beliau serta menawarkan rumah untuk beliau beristirahat. Namun Rasulullah SAW menjawab dengan bijaksana, yaitu untuk membiarkan unta miliknya berjalan, karena beliau diperintahkan oleh Allah SWT.
Rasulullah kemudian tinggal beberapa bulan di rumah Abu Ayub Al Anshari. Beliau mendirikan masjid (Nabawi) di atas sebidang tanah yang sebagian milik As’ad bin Zurrah, sebagian milik kedua anak yatim (Sahal dan Suhai), dan sebagian lagi tanah kuburan Musyrikin yang telah rusak. Tanah kepunyaan kedua anak yatim tadi dibeli dengan harga sepuluh dinar yang dibayar oleh Abu Bakar RA, sedangkan tanah kuburan dan milik As’ad bin Zurrah diserahkan sebagai wakaf. Rasulullah SAW meletakan batu pertama pendirian masjid, diikuti oleh sahabat-sahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Utsmand dan Ali. Kemudian pengerjaan masjid dilakukan bersama-sama sampai selesai.
Saat selesai dibangun, kondisi masjid masih sangat sederhana tanpa hiasan, tanpa tikar dan untuk penerangan di malam hari digunakan pelepah kurma kering yang dibakar. Pagarnya dari batu tanah, tiang-tiangnya dari batang kurma dan atapnya pelepah daun kurma. Waktu itu Baitul Maqdis di Yerussalem menjadi kiblat karena perintah menghadap Ka’bah belum turun. Di sisi masjid dibangun tempat kediaman Rasulullah SAW dan keluarganya yang kemudian menjadi tempat pemakaman Rasulullah, keluarga dan para sahabat.
Khusus untuk makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar Ibn Khotob RA berada di dalam area Mesjid Nabawi dan yang lainnya terkonsentrasi di pemakaman Baqi’ Gharqod yang berada di sebelah timur area Masjid Nabawi. Adapun para syuhada yang wafat pada perang Uhud banyak dimakamkan di bawah Jabah Uhud, yang salah satu diantaranya adalah Hamzah, paman Rasulullah SAW.
Dalam perkembangannya, Masjid Nabawi yang apabila sholat sekali di dalamnya maka nilainya seribu kali sholat, mengalami beberapa kali perombakan. Perubahan pertama adalah membangun mihrab setelah memindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram di Makkah tahun 2 H setelah Rasulullah menerima perintah memindahkan arah kiblat. Setelah itu, dilakukan beberapa kali perluasan masjid untuk dapat menampung jamaah yang semakin bertambah besar.
Sebelum ketatangan Rasulullah SAW beserta sahabatnya, masyarakat Madinah terdiri dari beberapa suku besar yaitu Bani Aus dan Khazraj serta tiga suku Yahudi, yaitu Bani Qoinuqo’, Bani Quraidhah dan Bani Nadhir. Wilayah Madinah dikelilingi oleh gunung dan beriklim gurun tapi kaya dengan air, karena banyak lembah tempat berkumpulnya air dari dataran yang lebih tinggi.
Setelah kedatangan Rasulullah SAW, Madinah berkembang pesat, terutama di bidang ekomoni dan sosial budaya. Untuk mejaga kerukunan warga dan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat yang ada di Madinah termasuk kaum Yahudi, dibuatlah Piagam Madinah yang mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakat. Rasulullah SAW menjadi pemimpin negara dan pemerintahhan dan menyebarkan ajaran Islam ke suluruh penjuru jazirah Arab.
Setelah Rasullullah SAW wafat, Madinah tetap melanjutkan risalah keimanan dan pengetahuannya. Kota ini menjadi pemerintah Khulafaa’ur Rasyidin, dan ibukota negara Islam yang berkembang. Madinah tetap menjaga persatuannya dengan memerangi orang-orang murtad, mengirimkan pendakwah dan pasukan penakluk ke seluruh penjuru, tetap mengapplikasikan warisan Rasulullah dalam kehidupan masyarakat.
Ketika kekhalifahan berpindah ke tangan Bani Umayyah di Damaskus pada tahun 40 H, kota Madinah terbebas dari beban politik, para penduduknya focus pada rutinitas harian dan kajian-kajian keilmuan di Mesjid Nabawi. Bangkit pula gerakan pengumpulan Hadits dan sejarah Islam dan muncul para ahli fiqih yang kompeten. Kota Madinah menjadi luas, bangunan-bangunan menyebar, rumah-rumah di sekitar lembah Aqiq bertambah ramai, bendungan-bendungan dibangun diatas lembah, dibangun area pertanian yang luas, juga bendungan air pertama yang mengatur sirkulasi air melalui saluran bawah tanah dari sumur-sumur daerah Quba’ menuju Masjid Nabawi dan daerah sekitarnya, yang mengairi kebun-kebun. Rakyat Madinah memberinya nama “mata air biru”. Masjid Nabawi direnovasi, dilakukan perluasan yang besar dengan teknologi dekorasi yang tinggi.
Saat kekhalifahan berpindah ke tangan Abbasiyah pada tahun 132 H, penduduk Madinah membai’at mereka, dan kehidupan pada masa itu berlangsung aman dalam kurun waktu lama sampa akhir abad ke-2 Hijriah. Terkecuali ketika terjadi dua peristiwa besar, yaitu pembunuhan beberapa orang dari bani Umayyah oleh bani Abbasiyah. Peristiwa lainnya adalah pemberontakan Muhammaz An-Nafsuz Zakiyyah terhadap khalifah Al-Manshur pada tahun 145 H. Beliau dikepung dan dibunuh bersama beberapa pembelanya oleh pasukan Abbasiyah yang menyerbu kota Madinah. Dan setelah itu, Madinah kembali pada jalurnya dalam keilmuan dan ekonomi, dan kemudian muncullah Imam Malik yang kajiannya dituju oleh para penuntut ilmu dari berbagai negara Islam.
Pada dekade kedua abad ke-3 Hijriah, kota Madinah menjadi tujuan umat muslim untuk berziarah ke Mesjid Nabawi dan bertemu dengan para ulama besar dunia Islam. Mereka saling bertemu di mesjid ini dan bertukar bacaan qira’at dan ijazah. Sebagian lagi berdiam untuk beberapa waktu untuk menyerap pelajaran-pelajaran agama.
Kota Madinah dikelilingi pagar yang dibangun pada tahun 263 H. Pagar tersebut menjaga penduduknya lebih dari dua abad. Para pembesar Abbasiyah dan Fathimiyyah berlomba-lomba untuk menarik hati penduduk Madinah dan berceramah di hadapan mereka di atas mimbar Masjid Nabawi, juga mengirimkan uang hadiah. Tak lama, bangunan-bangunan berdiri dan melewati pagar dari dua sisi, selatan dan barat. Mereka lalu membuat pagar ketiga dan meluaskan bangunan dengan sumbangan dana dari Sultan Nuruddin Zanki. Setelah itu, Shalahuddin Al-Ayyubi beserta anak-anaknya menjaga loyalitas penduduk Madinah terhadap pemerintahan Abbasiyah. Lalu keluarga Husainiyyah dari keluarha Al-Muhanna memerintah dan berpindahlah loyalitas mereka kepada pemerintah Mamalik di Mesir setelah tumbangnya pemerintahan Abbasiyah. Saat itu kota Madinnah menikmati otonomi daerahnya.
Pada zaman dinasiti Mamalik, gerakan keilmuan di kota Madinah semaki berkembang. Para ulama, sastrawan, dan sejarawan memperkaya pustaka Arab dengan karya-karya yang monumental, khususnya tentang sejarah kota Madinah dan tempat-tempat bersejarah di dalamnya. Era itu merupakan era terkaya Madinah. Sebelum runtuhnya dinasti Mamalik, pemerintak kota Madinah digabung ke dalam peperintaha Makkah, maka melemahlah kekuasaan Husainiyah, mereka dijadikan wakil dalam menjalankan pemeritahan mereka yang ikut kepada saudara sepupu mereka yang memerintah kota Makkah.
Saat kaisar Utsmaniyyah yang pertama bernama Salim berkuasa di Mesir, pemerintah kota Maakah mengirimkan kepadanya seorang utusan yang membawa kunci dua tanah suci, sebagai tanda tunduknya mereka pada kekuasaaan Utsmaniyyah. Itulah awal mula kota Hijjaz dengan dua kota sucinya masuk di dalam kekuasaan Utsmaniyyah.
Kekaisan Utsmaniyyah sangat memperhatikan kota Madinah dan mengirimkan dana yang besar. Mereka merenovasi pagarnya serta membangun benteng yang kokoh sebagai pengaman militer. Mereka juga mengatur sistem pemerintahannya dan tetap menjadikan pemerintaan kota Madinah bergabung dengan pemerintahan Makkah seperti sebelumnya. Kemudian secara bertahap kota Madinah diberi kebebasan. Pekerjaan militer ditentukan langsung dari ibukota kekaisaran, dan Syekh Masjid Nabawi menjadi sosok yang mempunyai kedudukan tertinggi secara administratif.
Orang-orang yang hijrah ke kota Madinah semakin banyak. Mereka datang dari berbagai negara Islam, baik perorangan maupun keluarga. Masyarakat Madinah menjadi masyarakat yang heterogen, perpaduan antara masyarakat Islam Eropa, Asia dan Afrika, khususnya pada abad terakhir dari dinasti Utsmaniyyah yang memerintah lebih dari 4 abad. Kota Madinah mencetak keseluruhan masyarakatnya dengan karakter agama dan kemasyarakatan. Ikatan kekeluagaan meluas antar suku dan negara untuk menambah keakraban dan keharmonisan antar masyarakat. Beberapa sekolah dan perpustakaan dibangun dan diwakafkan pleh para tokoh-tokoh terpandang dan para orang kaya.
Pada perempat awal abad ke-14 H, kota Madinah mengalami pertumbuhan dan kemakmuran yang besar. Kabel telegraf dan rel kereta api sudah memasuki Madinah atas prakarsa Sultan Abdul Hamid ke-2 yang berusaha keras untuk membangunnya demi kemudahan kaum muslimin menjalankan kewajiban ibadah haji, sekaligus agar menjadi jalur penghubung antar wilayah dalam negeri. Jumlah penduduk Madinah bertambah banyak hingga lebih dari tiga kali lipat, dan perdagangan pun semakin berkembang.
Saat terjadi Perang Dunia I, posisi sulit Dinasti Utsmaniah yang saat itu dikuasai oleh “Kelompok Persatun dan Kemajuan” mengakibatkan kota Madinah menderita kerugian yang besar. Pemimpin kota Makkah saat itu, Syarif Husain dan anak-anaknya memimpin revolusi besar melawan kekaisaran Utsmaniyyah dan berusaha menjatuhkan kekhalifahan. Dunia Islam terpecah belah diantara mereka, dan pemimpin Utsmaniyyah yang bernama Fakhri Pasha mengorbankan jiwa  raganya dalam membela kota Madinah yang kala itu dikepung oleh tentara Syarif Hussain. Beliau menganjurkan penduduk Madinah untuk hijrah keluar kota teresebut untuk menyudahi pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kemudian Fakhri Pasha menyuruh mereka yang belum keluar dari kota Madinah meningggalkan kota tersebut, hingga hanya sedikit yang tersisa dari penduduk Madinah, yaitu beberapa kekuarga saja. Pada awalnya, penduduk Madinah rela menghadapi kondisi seperti ini. Tapi ketika beban peperangan semakin berat, orang-orang yang berhijrah dari Madinah megalami hal-hal yang pahit; sebagian lain mengeluhkan kenaikan harga, kelaparan, dan pengepungan. Perlawanan Fakhri Pasha berlanjut sampai setelah jatuhnya ibukota kekhalifahan di tangan para sekutu, dan datangnya perintah dari mereka untuk menyerah. Sebagian pengikur berbalik melawannya dan menyerahkan kota Madinah kepada kekhalifahan Hasyimiyyah  pada tahun 1337 H.
Masyarakat Madinah mengirim surat kepada Raja Abdil Aziz yang saat itu berupaya mempersatukan negara. Raja Abdul Aziz kemudian mengirimkan putranya yang bernama Muhammad. Ia mengambil alih pemerintahan kota Madinah pada tahun 1344 H, lalu mewakili ayahnya dalam pengambilan bai’at (sumpah setia) dari penduduk Madinah. Sejak itulah era baru kehidupan kota Madinah yang suci dimulai. Kota tersebut masuk di dalam kawasan kerajaan Arab Saudi, dan menjadi salah satu dari wilayah pemerintahan yang terpenting.

10 Tempat di Kota Madinah yang wajib anda Kunjungi
Berikut kami sajikan 10 tempat paling bersejarah di kota Madinah Munawwarah-Arab Saudi yang biasa menjadi destinasi para jamaah Haji dan Umroh dari Indonesia:

1. Masjid Nabawi (Masjid Nabi)

tempat bersejarah madinah - masjid-nabawi-bola-lampu
Masjid Nabawi berada di Kota Madinah, Arab Saudi. Masjid ini dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi tempat makam beliau dan para sahabatnya. Masjid ini merupakan salah satu Masjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina.
Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah SAW tiba di Madinah, tepatnya di tempat unta tunggangan Nabi SAW menghentikan perjalanannya.

2. Makam Nabi Muhammad SAW

tempat bersejarah madinah - makam Nabi SAW
Makam Nabi Muhammad SAW salah satu tempat bersejarah madinah yang terletak di sebelah timur Masjid Nabawi. Di tempat ini dahulu terdapat dua rumah, yaitu rumah Rasulullah SAW bersama Aisyah dan rumah Ali dengan Fatimah. Sejak Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 H (632 M), rumah Rasulullah SAW terbagi dua.
Bagian arah kiblat (selatan) untuk makam Rasulullah SAW dan bagian utara untuk tempat tinggal Aisyah. Sejak tahun 678 H (1279 M), pada masa Dinasti Mamluk, di atasnya dipasang Kubah Hijau. Tepat di bawah Kubah Hijau jasad Rasulullah SAW dimakamkan. Di situ juga dimakamkan kedua sahabat, Abu Bakar dan Umar bin Khattab  yang dimakamkan dibawah kubah, berdampingan dengan makam Rasulullah SAW.

3. Raudhah

tempat bersejarah madinah - raudhah
Raudhah adalah ruang di bagian depan sisi kiri Masjid Nabawi Madinah, terletak di antara mimbar dan kamar Rasulullah SAW. Bagi jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia yang sedang berada di Madinah, Raudhah menjadi salah satu tempat yang paling dituju untuk bermunajat dalam rangkaian ibadah, setelah Arafah dan Multazam di Masjidil Haram.
Raudhah adalah tempat yang memiliki keutamaan karena rahmat dan anugerah kebahagiaan yang turun ke tempat itu dipercaya seperti anugerah yang turun ke taman surga, karena banyaknya dzikir kepada Allah SWT yang dilakukan terus menerus ditempat itu. Raudhah juga dianggap sebagai taman surga, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah. Rasulullah bersabda :
Diantara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surge, dan mimbarku di atas telingaku”.
4. Makam Baqi’
tempat bersejarah madinah - baqi
Baqi’ adalah tanah kuburan untuk penduduk sejak zaman jahiliyah sampai sekarang. Jamaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi, letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi. Di sinilah makam Ustman bin Affan ra, para istri Nabi, putra dan putrinya, dan para sahabat dimakamkan.

5. Masjid Quba

tempat bersejarah madinah - masjid QubaMasjid Quba adalah Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Masjid Quba adalah Masjid yang dibangun atas dasar takwa.
Janganlah kamu bersembahyang dalam Masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya Masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (QS. At Taubah : 108).

6. Masjid Qiblatain

tempat bersejarah madinah - masjid qiblatain
Masjid Qiblatain atau Masjid dua kiblat adalah salah satu tempat bersejarah madinah dan masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena Masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Pada permulaan Islam, orang melakukan Shalat dengan kiblat kea rah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa Palestina).
Kemudian belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat kea rah Masjidil Haram di Mekkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah hari senin bulan rajab waktu Dzuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah shalat dengan menghadap kea rah Masjidil Aqsa. Di tengah shalat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 :
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Baqarah : 144).

7. Jabal Uhud (Gunung Uhud)



tempat bersejarah madinah - Jabal Uhud di Madinah
Jabal Uhud di Madinah

Jabal Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita mencintainya. Begitu Nabi bersabda soal Jabal Uhud, bukit kemerahan yang menjadi saksi gugurnya para syuhada di Madinah. Uhud adalah kawasan perang besar antara kaum Muslim dengan kafir Quraisy yang peristiwanya akan terus dikenang hingga akhir masa.

8. Makam Hamzah Paman Nabi SAW

tempat bersejarah madinah - makam hamzah
Tepat di depan jabal Uhud terletak makan Paman Nabi Saw.  Hamzah bin Abdul Mutholib merupakn paman nabi yang sangat disegani dam ditakuti kaum kafil Quraisy, beliau adalah pelindung nabi dan bergelar Singa dari padang pasir karena beliau gagah berani dan lihai berperang.  Dalam kisah tersendiri seperti yang bisa kita lihat dalam film Lion of The Dessert, Sayyidina Hamzah terbunuh secara tidak ksatria, ditombak dari belakang oleh seorang pembunuh bayaran yang disewa seorang kafir Mekah. Kuburan Hamzah Tidak Terletak di Makam Baqi’.
9. Parit Khandaq (Masjid Khamsah)
tempat bersejarah madinah - khandaq
Terletak sekitar 3 km sebelah barat laut Masjid Nabawi. Sejarah Masjid Khamsah ini berawal dari perang Ahzab. Kaum muslimin sebanyak 3000 pasukan berhadapan dengan pasukan koalisi yang terdiri dari 4000 pasukan kafir Quraisy yang bergabung dengan pasukan Yahudi dari Bani Quaraidhah dan lain-lain sebanyak 6000 orang, sehingga pasukan gabungan itu berjumlah 10.000 orang.
Untuk menghadapi pasukan Ahzab ini, Salman al-Farisi memberikan masukan yang cemerlang dengan cara membuat parit (Khandaq) sepanjang kurang lebih 2,5 km, kedalaman kurang lebih 3,5 meter dan lebar kurang lebih 4,5 meter. Kaum muslimin bertahan di belakang parit itu, sehingga pasukan lawan mendapat kesulitan untuk menyerang secara langsung.

10. Jabal Magnet

tempat bersejarah madinah - jabal-magnet-ok
Penamaan Jabal Magnet hanya terkenal di kalangan orang-orang Indonesia. Warga asli Madinah sendiri menyebutnya sebagai “Manthaqotul Baido” (tanah putih). Jabal Magnet terletak kira-kira 60 kilometer dari Kota Madinah dengan lokasi kanan kiri terdapat perbukitan. Namanya memang tak setenar tempat bersejarah lainnya yang ada di kota suci Madinah dan Makkah, seperti Jabal Uhud, Baqi’; Jabal Rahmah, dan lainnya. Namun, “Jabal Magnet” (Bukit Magnet) setiap tahun selalu dikunjungi jutaan manusia dari berbagai belahan dunia yang sedang menunaikan haji dan umrah atau pun sekedar wisata.



Al Baqarah Ayat 278

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
[2:278] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.


Asbabunnuzul

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Bani Umair bin Auf As Saqfi dan Bani Maghirah, dari Bani Makhzum. Keduanya hendak membuat perjanjian dengan Utab bin Asad, Amir Mekah pada waktu itu.
Isinya berupa permohonan agar praktik riba di kalangan kedua kabilah tersebut diperbolehkan, sedangkan semenjak  Fathu Makkah, segala macam praktik riba telah diharamkan. Amir Mekah kemudian meminta saran kepada Rasulullah saw. Lalu, turunlah ayat ini yang ditegaskan dengan ancaman bagi yang melanggarnya.

Tafsir

Dengan ayat ini, Allah memerintahkan hambanya untuk beriman dan bertakwa melalui meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhi hambanya dari keridhaan-Nya. Makna dari “tinggalkan sisa riba” di sini adalah tinggalkanlah hartamu yang merupakan kelebihan dari pokok yang harus dibayarkan oleh orang lain. Pada ayat selanjutnya, dijelaskan pula bahwa apabila sisa riba tersebut tidak ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman, maka Allah dan Rasul-Nya akan memerangi pada pengambil riba tersebut. Dan ayat selanjutnya pula menjelaskan bahwa apabila terdapat orang yang sedang berhutang sedang mengalami kesulitan dalam melunasi hutangnya, hendaknya diberikan penangguhan hingga dirinya memiliki kelapangan harta. Apabila orang tersebut tidak mampu membayarnya, akan lebih baik untuk direlakan dan akan dianggap sebagai sedekah di sisi Allah.
Dengan prinsip membebaskan orang dari kesulitan, riba menjadi salah satu hal yang sangat dilarang untuk dipraktekkan dan dijanjikan untuk diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya apabila orang-orang beriman tidak meninggalkannya setelah diberikan peringatan. Meminta tambahan atas keterlambatan pelunasan merupakan praktek riba, walaupun terkadang hal tersebut dilakukan untuk mendorong orang tersebut supaya cepat melunasi hutangnya, namun hal tersebut merupakan hal yang buruk di sisi Allah karena menyedekahkannya dengan tujuan meringankan beban orang yang berhutang adalah jauh lebih baik dan mendatangkan keridhaan-Nya.

Demikian sedikit penafsiran yang beberapa diambil dari ringkasan tafsir Ibnu Katsir.

Peta Perjalanan Hijrah Dari Mekah Ke Madinah

Peta Perjalanan Hijrah Dari Mekah Ke Madinah

Rasulullah melaksanakan hijrah dari Mekah ke Madinah tidak melalui jalan utama. Tidak lain untuk menghindari pengejaran yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Beliau memilih jalur yang berseberangan  dengan jalan umum. Beliau berangkat dari Mekah kemudian menuju Tsaniatul Ghazal, Ar Raudha, Qudaid, Kulay, Juhfah, Badr, Ar Rauhana, Dzul Hulaifah, dan sampai Yastrib (Madinah). Sementara, jalan utama yang biasa digunakan oleh penduduk Mekah dan sekitarnya sengaja dihindari. Jalur-jalur itu membentang dari Mekah, Hudaibiyah, Usfan, tsaniatul marrah, dzatul jasy yang langsung ke Gerbang Yastrib. Dengan menghindari jalur utama ini, rasulullah selamat dari kejaran kaum kafir Quraisy, bahkan sebagian mereka yang berupaya mengejar beliau dan rombongan kehilangan jejak.


Sirah Nabawiyah

Seperti penduduk lainnya, penduduk Yastrib berdatangan ke Mekah untuk melaksanakan ritual tahunan. Rasulullah berdakwah kepada mereka dan mengutus Mush'ab bin Umair ke Yastrib untuk mengajarkan Islam. Penduduk Yastrib semakin banyak yang memeluk Islam. Para sahabat diperintahkan untuk berhijrah ke Yastrib. Sementara Rasulullah masih di Mekah bersama Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib untuk menyelesaikan urusan kaum muslimin yang tertinggal dan mengurusi barang-barang titipan kaum Quraisy.
Berita hijrah menyebar di kalangan Quraisy. Para pembesar Quraisy segera berkumpul di Darun Nadwah dan mengutus 12 pemuda, diantaranya Abu Jahal, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, Hakam bin Abul 'Ash, dan lainnya untuk mengepung Rasulullah. Kemudian, Rasulullah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat beliau seraya bersabda, "Kejadian yang tidak engkau sukai tidak akan sampai menimpamu". Atas pertolongan Allah, Rasulullah keluar dari kepungan dengan selamat. Pada pagi harinya, orang-orang Quraisy terkecoh.

Hijrah ke Madinah

Setelah kaum muslimin Makkah hijrah ke Yastrib atas perintah Rasulullah , maka kaum muslimin yang masih berada di Makkah amat sedikit sekali jumlahnya. Dua orang sahabat utama Rasulullah , yaitu Abu Bakar Siddiq dan Ali bin Abi Thalib masih tetap berada di Makkah bersama Rasulullah Rasulullah  belum melakukan hijrah sebelum ada perintah dari Allah SWT.

Kaum kafir Quraisy mengetahui bahwa orang - orang Islam banyak yang telah hijrah ke Madinah. Oleh karena itu, mereka harus bertindak cepat terhadap Rasulullah  selagi beliau belum berangkat pindah ke Madinah.

Maka bersidanglah para pemuka Quraisy di suatu tempat yang bernama Darun Nadwah untuk merencanakan tindakan yang akan diambil terhadap Rasulullah. Akhirnya mereka memutuskan bahwa Rasulullah  harus dibunuh.

Rencana jahat kaum kafir Quraisy itu telah dketahui pula oleh Rasulullah . Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk pindah ke negeri Yastrib (Madinah). Rasulullah memberitahukan kepada sahabatnya Abu Bakar. Kepada Rasulullah, Abu Bakar meminta agar diizinkan menemani beliau dalam perjalanan. Rasulullah menyetujui, lalu Abu Bakar menyediakan persediaan untuk perjalanan tersebut.
Jabal Tsur, gunung setinggi 458 m yang berada di sebelah kanan kota Makkah. Gua Tsur terletak di puncak gunung Tsur

Pada waktu Rasulullah bersiap - siap untuk berangkat meninggalkan rumah, beliau berpesan kepada Ali bin Abi Thalib supaya Ali tidur di tempat tidurnya. Beliau juga berpesan kepada Ali untuk mengembalikan barang titipan kepada para pemiliknya. Semua tugas ini dikerjakan dengan baik oleh Ali, meskipun jiwanya terancam oleh kafir Quraisy.

Sewaktu para pemuda Quraisy mengepung rumah Rasulullah, tanpa diketahui mereka, Rasulullah keluar rumah menuju ke rumah Abu Bakar. Setelah sampai di rumah Abu Bakar, Rasulullah mengajak Abu Bakar menuju ke Gua Tsur untuk mencari tempat persembunyian yang aman sebelum mereka ke Madinah.

Pada waktu menjelang subuh, para pemuda Quraisy yang mengepung rumah Rasulullah telah siap untuk melakukan rencananya. Mereka mengetahui kebiasaan Rasulullah, yaitu bangun untuk melaksanakan shalat subuh. Waktu itulah yang mereka gunakan untuk menangkap dan membunuh Rasulullah. Tetapi tatkala mereka mengintip dari celah - celah bilik tempat tidur Rasulullah, mereka melihat Rasulullah masih tertidur nyenyak. mereka gelisah karena takut kesiangan, sehingga penduduk Makkah tahu sebelum rencana dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, dengan perasaan gusar mereka menggedor pintu kamar rumah Rasulullah berkali - kali sehingga Ali terbangun dan membuka pintu.

Betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui yang keluar adalah Ali bin Abi Thalib, bukan Rasulullah. Untuk itulah mereka memaksa Ali agar mau menunjukkan kemana Rasulullah pergi. Tetapi Ali tidak mau memberitahukannya. Setelah tidak berhasil membujuk Ali, para pemuka Quraisy akhirnya pergi mencari Rasulullah ke segenap penjuru Makkah.

Dengan dibantu oleh para ahli penyelidik, mereka mengikuti jejak kaki Rasulullah dan Abu Bakar, tetapi setelah dekat Gua Tsur jejak itu hilang. Tidak jauh dari Gua Tsur mereka bertemu dengan seorang pengembala, lalu ditanya dan dijawabnya "Mungkin saja ada dalam gua itu, tetapi saya tidak melihat ada orang menuju kesana".
Gua Tsur, tempat persembunyian Rasulullah  dan Abu Bakar meloloskan diri dari pengejaran kaum kafir Quraisy
Ketika mendengar jawaban pengembala itu, Abu Bakar bergetar, merasa takut akan tertangkap. Melihat kecemasan Abu Bakar, dengan tenang Rasulullah menghibur sahabatnya itu dengan mengatakan "Jangan takut dan sedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita".

Setelah diketahui bahwa pintu Gua itu ada burung sedang mengerami telurnya dan sarang laba - laba, maka akhirnya para pemuda Quraisy pun meninggalkan tempat itu dengan tangan hampa.

Rasulullah  dan Abu Bakar berada dalam gua itu selama tiga hari tiga malam. Selama disana mereka dibantu putra putri Abu Bakar serta pembantunya. Asma binti Abu Bakar, pengantar makanan, Abdullah bin Abu Bakar , bertugas menyelidiki keadaan  kafir Quraisy dan hasilnya disampaikan kepada Rasulullah dan Abu Bakar. Sedangkan pembantu Abu Bakar, Amir bin Fuhairah bertugas memberitahukan sesuatu yang diperlukan Rasulullah dan mengantar susu hasil perasannya kepada Rasulullah dan Abu Bakar.

Setelah dari Gua Tsur, Rasulullah  dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan mereka. Ketika berada di tengah perjalanan menuju Madinah, mereka berdua dikejar oleh Suraqah, seorang pembunuh bayaran yang mendapat imbalan 100 ekor unta. Namun usahanya itu tidak berhasil, karena berkali - kali ia terjatuh dari kudanya saat akan membunuh Rasulullah, bahkan kaki kudanya terpendam ke dalam pasir. Setelah tidak berdaya membunuh Rasulullah, ia meminta maaf kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah pun memaafkannya. Rasulullah berpesan kepadanya agar merahasiakan kepergiannya ke Madinah. Permintaan itu pun disanggupi Suraqah. Sehingga dengan selamat Rasulullah melakukan perjalanan ke Madinah

Akhirnya pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun ke 13 kenabian, Rasulullah  dan Abu Bakar sampai di Quba, lebih kurang 10 km di luar kota Madinah. Rasulullah singgah di Quba selama 4 hari, dan selama itu Rasulullah  tinggal dirumah Kultsum bin Hamdan, dari keturunan keluarga Bani Amr bin Auf dari golongan Aus, sedangkan Abu Bakar tinggal dirumah Habib bin Asaf dari golongan Khazraj.

Tak lama setelah itu, datanglah rombongan keluarga Rasulullah dan Abu Bakar yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib, di antara mereka  adalah Fatimah, Ummu Kultsum, Saudah, Ummu Aiman dan anaknya Usamah, Ummu Ruman (isteri Abu Bakar) serta anak - anaknya seperti Aisyah, Asma' dan Abdullah, dan umat islam lainnya.

Selama di Quba, Rasulullah  mendirikan Masjid di atas tanah milik Kultsum bin Hamdan. Rasulullah sendiri yang meletakkan batu pertama, kemudian Abu Bakar, Umar dan Usman. Dan yang pertama kali menemboknya adalah Ammar bin Yasir, selanjutnya pekerjaan itu dilakukan oleh kaum Muhajirin dan Anshar. Masjid ini dikenal dengan Masjid Quba, dalam Al-Qur'an disebut juga Masjid Taqwa. Masjid inilah yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah. Setelah ada berita bahwa Rasulullah dalam perjalanan menuju kota Madinah, maka kaum muslimin Madinah sudah menunggu kedatangan beliau dengan penuh kerinduan dan penghormatan.

Pada hari jumat tanggal 16 Rabiul Awwal tahun ke 1 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 2 Juli 622 Masehi, Rasulullah beserta rombongan Muhajirin lainnya disambut meriah oleh penduduk Madinah. Mereka melagukan sebuah syair yang terkenal, sebagai berikut :
 Telah timbullah bulan purnama, dari Tsaniyyatil Wad'i. Kami bersyukur, selama ada orang menyeru kepada Tuhan. Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau telah membawa sesuatu yang harus kami ta'ati.
Pada hari jum'at itu juga Rasulullah  untuk pertama kali mengadakan shalat Jum'at yang diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar.

Setelah menetap di Madinah, barulah Rasulullah  mulai mengatur semua rencana untuk kebaikan dan kepentingan penduduk Madinah serta kepentingan umat Islam. Peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah akhirnya dijadikan sebagai awal perhitungan tahun Hijriah.


video
Pawai Obor Meriahkan Perayaan Tahun Baru Islam di Cimahi



Popular post

Entri Populer

Entri Populer

 
Support : Jasa Pembuatan Website | Toko Online | Web Bisnis
Copyright © 2011. Nurul Asri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger