Latest Post

Bukit Shafa dan Sekitarnya

 Peta Lokasi Bukit Shafa dan Sekitarnya

Analisis Peta
Bukit Shafa berada di antara Ka'bah disebelah barat dan bukit Qubais disebelah timur. Sementara di utara terdapat Bukit Marwah. Diantara Shafa dan Marwah ini tedapat tempat tinggal bani Abdus Syam dan bani Syaibah. Sedikit menyerong ke luar terdapat rumah tinggal Al Arqam bin Abdul Arqam dan rumah Abbas bin Abdul Muthalib. Di arah timur laut Bukit Marwah merupakan tempat Rasulullah dilahirkan. Di Bukit Syafa yang berdekatan dengan tempat tinggal bani makhzum dan Ka'bah itulah Rasulullah memulai dakwah secara terang-terangan setelah beberapa lama menyembunyikan dakwahnya. Ditempat itu pula, Rasulullah memulai sai dalam ibadah haji yang dilaksanakan  menjelang akhir hayatnya. Bukit Syafa dan marwah kini tidak lagi berbentuk bukit, tetapi sudah berubah menjadi dataran tinggi yang hampir rata dan berada di wilayah Masjidilharam.



Bukit Shafa dan Marwah adalah dua buah bukit yang terletak dekat dengan Ka’bah (Baitullah). Bukit Shafa dan Marwah ini memiliki sejarah yang sangat penting dalam dunia Islam, khususnya dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Bukit Shafa dan Marwah yang berjarak sekitar 450 meter itu, menjadi salah satu dari rukun haji dan umrah, yakni melaksanakan Sa’i.
Pelaksanaan Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah melestarikan pengalaman Siti Hajar r.a (Ibu Ismail As) ketika mondar-mandir antara kedua bukit itu untuk mencari air minum bagi dirinya dan puteranya, disaat beliau kehabisan air, ditempat yang sangat tandus, dan tiada seorangpun dapat dimintai pertolongan. Nabi Ibrahim as tidak berada di tempat, berada di tempat yang sangat jauh di Syam. Kasih sayang seorang ibu yang mendorong Siti Hajar r.a mondar-mandir hingga 7 kali pulang balik antara bukit Shafa dan Marwah itu. Jarak antara bukit Shafa dan Marwah adalah kurang lebih 400 meter.
Dan diantara HIKMAH yang perlu dicerna dalam pelaksanaan Sa’i memberikan setiap makna sikap optimis dan usaha yang keras serta penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT. Kesungguhan yang dilakukan Siti Hajar r.a dalam mencari air sebagai nyawa kehidupan membuat ia mampu 7 kali mondar-mandir antara bukit Shafa dan Marwah. Hal ini memberi arti bahwa hari-hari kita yang berjumlah 7 hari setiap minggunya haruslah diisi dengan penuh usaha dan kerja keras . Pekerjaan yang dilakukan dengan sunguh-sungguh sangat disenangi oleh Allah SWT, sebagai mana yang di sabdakan Rasulullah SAW: “Bekerjalah dengan sungguh-sungguh

Hanya Ada Dua Hari Raya dalam Islam

 Hanya Ada Dua Hari Raya dalam Islam

Dalam Islam, hari raya besar itu cuma dua, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). Jadi Islam tidak memperingati perayaan lainnya seperti kelahiran Nabi, tahun baru Islam atau tahun baru lainnya, tidak ada peringatan turunnya Al Qur’an atau yang menandakan Nabi melakukan peristiwa tertentu. Seharusnya seorang muslim atau yang baru merasakan Islam, mencukupkan dengan dua perayaan tersebut.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.
Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ
Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.




Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Masjid Agung di Afrika Terbuat dari Lumpur

Unik! Masjid Agung di Afrika Terbuat dari Lumpur


Masjid Agung Djenne, Afsel
Masjid-masjid unik di dunia, banyak dikunjungi wisatawan mancanegara di bulan Ramadan. Salah satunya Masjid Agung Djenne, Mali di Afrika. Bangunan masjid megah ini terbuat dari lumpur!

Tak disangka, bangunan masjid yang mulai didirikan pada tahun 800 Masehi ini merupakan salah satu bangunan tertua di kawasan kota tua Djenne, Mali. Masjid Agung Djenne dibangun kembali pada tahun 1907 dengan sentuhan gaya percampuran arsitektur Sudano dan Sahel yang masih utuh hingga kini.

Dari situs wisata Djenne, Kamis (11/7/2013) kala itu Kota Djenne mempunyai hubungan erat dengan sistem perdagangan emas, garam dan barang-barang lain yang keluar masuk kawasan ini. Selama bertahun-tahun kota ini juga menjadi pusat keilmuan Islam.

Para penduduk mendirikan masjid ini dengan susah payah. Namun, sempat diruntuhkan oleh Suku Amadu karena mereka ingin menyaingi dan membangun masjid baru yang tak kalah megah.

Semua sisi dinding-dinding masjid terbuat dari lumpur yang dikeraskan dengan bantuan langsung energi matahari. Kemudian bagian luar diperhalus dengan tambahan polesan lapisan lumpur sehingga tampil seperti pahatan.

Ketebalan dan tinggi dinding bervariasi, sekitar 41 cm dan 61 cm. Berguna untuk menahan berat struktur masjid yang tinggi. Selain itu juga untuk melindungi dari radiasi sinar matahari. Sifat lumpur memang mudah menyerap hawa panas matahari dan membuat suasana masjid menjadi hangat.

Masjid unik ini berada di sekitar tepi Sungai Bani. Untuk melindungi dari kerusakan air, terutama banjir semua struktur dibangun pada ketinggian tanah di atas 3 meter.


Cara perawatan masjid ini cukup unik dengan mengadakan festival unik yang hampir dirayakan setahun sekali. Semua penduduk Djenne berperan aktif untuk merawat masjid ini. Biasanya festival tersebut dijadikan ajang perlombaan yang diadakan untuk melihat siapa yang akan menjadi yang pertama untuk memberikan polesan ke dinding masjid.

Biasanya anak laki-laki yang saling bekerjasama memoles dinding dengan beberapa adukan lumpur yang sudah disiapkan sebelumnya. Kemudian anak perempuan berlari ke dekat bangunan membawa beberapa air untuk membuat adukan lumpur.

Sedangkan para orang tua mereka duduk di pinggiran masjid bersorak sorai menyaksikan festival ini. Suara gemuruh musik islami dan bazar makanan turut serta memeriahkan festival ini.

UNESCO telah menetapkan bangunan masjid ini serta kawasan kota tua Djenne menjadi situs warisan dunia pada tahun 1988. Meskipun ada banyak masjid yang lebih tua saat ini, Masjid Agung Djenne tetap simbol paling menonjol dari kota Djenn dan bangsa Mali.


 

Masjid Tertua di Dunia, Dibuat oleh Nabi Muhammad

Masjid Tertua di Dunia, Dibuat oleh Nabi Muhammad

Masjid Quba di Madinah
Madinah - Jutaan masjid tersebar di berbagai belahan dunia. Di antara semuanya, Masjid Quba di Madinah menjadi yang tertua. Nabi Muhammad SAW meletakkan batu pertama pada abad ke-6 masehi. Masjid Quba masih berdiri megah sampai sekarang.

Masjidil Haram memang punya sejarah panjang sejak zaman Nabi Ibrahim, namun masjid pertama dalam sejarah Islam adalah Masjid Quba. Nah, kalau berkunjung ke Madinah, cobalah bertolak ke arah gerbang barat sekitar 5 Km dari Masjid Nabawi. Tak banyak wisatawan yang sadar, mereka sedang dihadapkan dengan masjid tertua di dunia.

Inilah Masjid Quba, yang pembangunannya rampung pada tahun 622 masehi. Dari situs resmi Quba Mosque, Kamis (11/7/2013), peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu Nabi Muhammad SAW menghabiskan waktu 20 hari di masjid ini, saat sedang berpindah dari Makkah ke Madinah.

Setelah batu pertama diletakkan, umatnya-lah yang menyelesaikan masjid ini. Semenjak itu Nabi Muhammad SAW sering datang ke Masjid Quba, dengan naik kuda maupun berjalan kaki. Sang Nabi pun berdoa dan salat di sini. Konon, salat sebanyak 2 rakaat di Masjid Quba pahalanya sama dengan 1 kali Umrah.

Karena usia yang sudah uzur, masjid ini dibangun ulang tahun 1982. Pada 2012, Masjid Quba kembali dipugar dan diperbesar. Pemerintah setempat menggelontorkan 100 juta Riyal (Rp 2,6 miliar) untuk membangun kembali masjid tertua di dunia ini.

Sekarang, Masjid Quba mencakup 2 lantai. Selain area untuk salat, terdapat pula kantor dan perpustakaan. Wisatawan tak perlu kuatir kalau pergi ke sini, ada beberapa hotel yang letaknya di sekitar Masjid Quba. Madinah Moevenpick Hotel, Marriott Madinah, dan Shaza Al Madina adalah beberapa di antaranya.


Shalahuddin al-Ayyubi

Kali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.
Asal dan Masa Pertumbuhannya
tikrit Shalahuddin al Ayyubi
Shalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan ‘ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab, ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.
Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, “Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang.”
Dari Tikrit, keluarga Kurdi ini berpindah menuju Mosul. Sang ayah, Najmuddin Ayyub tinggal bersama seorang pemimpin besar lainnya yakni Imaduddin az-Zanki. Imaduddin az-Zanki memuliakan keluarga ini, dan Shalahuddin pun tumbuh di lingkungan yang penuh keberkahan dan kerabat yang terhormat. Di lingkungan barunya dia belajar menunggang kuda, menggunakan senjata, dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai jihad. Di tempat ini juga Shalahuddin kecil mulai mempelajari Alquran, menghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mempelajari bahasa dan sastra Arab, dan ilmu-ilmu lainnya.
Diangkat Menjadi Mentri di Mesir
Sebelum kedatangan Shalahuddin al-Ayyubi, Mesir merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Syiah, Daulah Fathimiyah. Kemudian pada masa berikutnya Dinasti Fathimiyah yang berjalan stabil mulai digoncang pergolakan di dalam negerinya. Orang-orang Turki, Sudan, dan Maroko menginginkan adanya revolusi. Saat itu Nuruddin Mahmud, paman Shalahuddin, melihat sebuah peluang untuk menaklukkan kerajaan Syiah ini, ia berpandangan penaklukkan Daulah Fathimiyyah adalah jalan lapang untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan Pasukan Salib.
Nuruddin benar-benar merealisasikan cita-citanya, ia mengirim pasukan dari Damaskus yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh untuk membantu keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, di Mesir. Mengetahui kedatangan pasukan besar ini, sebagian Pasukan Salib yang berada di Mesir pun lari kocar-kacir sehingga yang dihadapi oleh Asaduddin dan Shalahuddin hanyalah orang-orang Fathimyah saja. Daulah Fathimiyah berhasil dihancurkan dan Shalahuddin diangkat menjadi mentri di wilayah Mesir. Namun tidak lama menjabat sebagai menteri di Mesir, dua bulan kemudian Shalahuddin diangkat sebagai wakil dari Khalifah Dinasti Ayyubiyah.
Selama dua bulan memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-kebijakan progresif yang visioner. Ia membangun dua sekolah besar berdasarkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini ia tujukan untuk memberantas pemikiran Syiah yang bercokol sekian lama di tanah Mesir. Hasilnya bisa kita rasakan hingga saat ini, Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni. Kebijakan lainnya yang ia lakukan adalah mengganti penyebutan nama-nama khalifah Fathimiyah dengan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam khutbah Jumat.
Menaklukkan Jerusalem
Persiapan Shalahuddin untuk menggempur Pasukan Salib di Jerusalem benar-benar matang. Ia menggabungkan persiapan keimanan (non-materi) dan persiapan materi yang luar biasa. Persiapan keimanan ia bangun dengan membersihkan akidah Syiah bathiniyah dari dada-dada kaum muslimin dengan membangun madrasah dan menyemarakkakn dakwah, persatuan dan kesatuan umat ditanamkan dan dibangkitkan kesadaran mereka menghadapi Pasukan Salib. Dengan kampanyenya ini ia berhasil menyatukan penduduk Syam, Irak, Yaman, Hijaz, dan Maroko di bawah satu komando. Dari persiapan non-materi ini terbentuklah sebuah pasukan dengan cita-cita yang sama dan memiliki landasan keimanan yang kokoh.
crusade 300x445 Shalahuddin al AyyubiDari segi fisik Shalahuddin mengadakan pembangunan makas militer, benteng-benteng perbatasan, menambah jumlah pasukan, memperbaiki kapal-kapal perang, membangun rumah sakit, dll.
Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.
Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan Jerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib di Hathin terlebih dahulu, perang ini dinamakan Perang Hathin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30000 Pasukan Salib dan menawan 30000 lainnya.
Setelah menguras energy di Hathin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds, Jerusalem, dengan jumlah pasukan yang besar tentara-tentara Allah ini mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri, beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insya Allah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.
Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.
Pasukan Salib mulai terpojok, merek tercerai-berai, dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, “Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam (ketika menaklukkan Jerusalem)”. Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian bin Bazran, mengancam “Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kami, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!” Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.
dome of the rock Shalahuddin al Ayyubi
Dome of The Rock atau Kubatu Shakhrakh
Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.
Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.
al Aqsha Shalahuddin al Ayyubi
Masjid al-Aqsha
Wafatnya Sang Pahlawan
Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya. Semoga Allah meridhai, merahmati, dan  membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem.

Sumber:
Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Basim al-Usaili
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Abu al-Hasan an-Nadawi
Islamstroy.com

Ditulis oleh Nurfitri Hadi

Kisah Imam Masjid dan Supir Bus

Kisah Imam Masjid dan Supir Bus


Beberapa waktu yang lalu datanglah seorang imam yang baru di masjid London, salah satu kota di Inggris. Imam ini setiap harinya naik bis dari rumahnya menuju ke kota sehingga sering naik bis dengan supir yang sama.

Suatu hari beliau naik bis dan kemudian membayar harga karcisnya dan langsung duduk ! selang beberapa lama pak supir mengembalikan uang kembalianya, begitu beliau melihat uangnya, ternyata pak supir mengembalikan uang sisanya berlebih 20 pinis !

Sang Imam langsung berfikir untuk mengembalikan uang lebihnya karena bukan haknya. Tapi muncul dalam benaknya bisikan: lupakan urusan ini ! sisanya tidak seberapa, tidak ada seorangpun yang memperhatikannya, sebagaimana perusahaan bis mendapatkan pemasukan yang sangat banyak, uang segini tidak ada artinya bagi mereka dan tidak mengurangi sedikitpun pendapatannya!

Biar saya bawa, aku akan diam dan tidak akan aku kembalikan!
Berhentilah bis pada terminal yang dikehendaki sang Imam, sebelum keluar dari bis, Imam tersebut berhenti sejenak dan mengulurkan tangannya kepada sang supir dan berkata : ambillah ! anda memberikan kepada saya uang lebih dari yang semestinya aku terima !

Tersenyumlah sang supir seraya bertanya : bukankah anda Imam yang baru di masjid kota kami ini ? sejak beberapa waktu yang lalu aku berfikir hendak pergi ke masjid anda untuk mengenal agama Islam lebih dekat ! uang lebih tadi aku berikan kepada anda dengan sengaja untuk mengetahui bagaimana sikap anda !
Ketika sang Imam tadi turun dari bis, dia merasakan kedua lututnya menjadi lumpuh, tidak kuat menahan tubuhnya dan badannya hampir terjatuh merasakan beratnya peristiwa tersebut !

Kemudian berpegang dengan salah satu tiang di dekatnya, agar tidak terjatuh sambil memandang ke atas langit dan berdoa disertai tangisan : Ya Allah ! hampir saja aku menjual agama Islam dengan harga 20 pinis !
hikmahnya : janganlah sekali-kali meremehkan amanah sekecil apapun karena sekecil apapun amanah tersebut ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah!



Ditulis oleh Ustadz Abu Saad

Mengenal Raja Faishal bin Abdul Aziz Alu Su’ud

Mengenal Raja Faishal bin Abdul Aziz Alu Su’ud

Mekah
“Apakah kalian melihat pohon-pohon ini (pohon kurma)?! Sungguh ayah dan nenek moyang kita ratusan tahun mampu bertahan hidup hanya dengan memakan buahnya. Kita pun demikian, kita siap kembali tinggal di kemah-kemah seperti mereka. Kita tidak butuh (uang dari penjualan) minyak, kalau hanya digunakan musuh kita untuk memerangi (saudara-saudara) kita.”

Inilah potongan pidato Raja Faishal bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi, ketika melihat Amerika berpihak kepada Israel yang mencaplok tanah Palestina. Beliau menyatakan siap hidup miskin, tinggal di kemah-kemah seperti seorang badui dan siap hanya memakan kurma saja sebagaimana leluhurnya dahulu sebagai konsekuensi mengembargo ekspor minyak ke Amerika.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya
Dia adalah Faishal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Faishal Alu Su’ud. Ia dilahirkan di Riyadh, bulan Safar 1324 H bertepatan dengan April 1906 M. Hari kelahirannya tepat bersamaan dengan kemenangan sang ayah, Abdul Aziz Alu Su’ud, dalam Perang Raudhah al-Hana, salah satu perang terpenting yang melatarbelakangi terbentuknya Kerajaan Arab Saudi jilid III.

Faishal kecil mulai mempelajari agama Islam di lingkungan rumahnya dengan guru-guru yang kompeten. Gurunya yang paling terkenal dan berpengaruh terhadap keilmuannya adalah Syaikh Abdullah bin Abdul Latif Alu asy-Syaikh, salah seorang keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Faishal mampu menghafal Alquran di usia yang sangat belia, di usia yang belum genap 13 tahun. Sebagaimana tradisi Arab dan kerajaan-kerajaan Islam sebelumnya, putra mahkota akan dilatih menunggang kuda dan terampil menggunakan senjata (bela diri) di masa kecil mereka, demikian juga Faishal, ia mengalami masa kecil yang tidak jauh berbeda dari masa kecil raja-raja Islam di abad klasik.

Di usia 13 tahun, untuk pertama kalinya Faishal turut serta berperang bersama ayahnya. Saat itu memang bangsa Arab terpecah-pecah bukan hanya dalam bentuk negara bahkan menjadi bersuku-suku. Tiga tahun kemudian, di usia 16 tahun, ia dipercaya memimpin pasukan menaklukkan wilayah Hail (kota di Barat Laut Arab Saudi sekarang), kemudian di usia 20 tahun dipercaya sebagai pemimpin pasukan menghadapi pemberontak dari Yaman. Setelah pemberontak Yaman ini mulai lemah dan kerajaan mampu untuk menaklukkan Kota Shan’a, Raja Abdul Aziz menyepakati perjanjian damai dengan orang-orang Yaman. Faishal muda yang masih bergejolak semangatnya, merasa kecewa dan menolak keputusan sang ayah, namun dari sanalah ia belajar tentang kebijaksanaan, kemenangan tidak hanya diukur dengan kekuatan pedang. Dari kejadian itu juga sang ayah mengajarkan kepadanya bagaimana mengambil tindakan dalam politik luar negeri.

Diangkat Menjadi Menteri Luar Negeri
Negara pertama yang dikunjungi Faishal bin Abdul Aziz ketika menjabat menteri luar negeri adalah Kerajaan Inggris. Ia mengadakan dialog dan menjalin kesepakatan-kesepakatan dengan negeri Ratu Elisabet tersebut. Pada tahun 1939, atas perintah ayahnya, Faishal kembali mengunjungi Inggris untuk melobi kerajaan tersebut agar tidak menjadikan wilayah Palestina sebagai negara Yahudi. Saudi berusaha melobi Inggris dengan tawaran kesepakatan tentang kerja sama minyak antara dua negara. Namun superioritas Inggris kala itu tidak bisa dipengaruhi dengan kekuatan minyak Arab Saudi.

Untuk mempromosikannya dan membuatnya semakin dikenal dunia, ayahnya, Raja Abdul Aziz, menambah jabatannya. Selain sebagai menteri luar negeri, ia juga dipercaya sebagai amir wilayah Hijaz, karena Hijaz yang terdapat Mekah dan Madinah sangat erat kaitannya dengan dunia Islam secara umum. Dan kebijakan ini semakin mengasah kemampuannya untuk menjadi seorang pemimpin yang besar.

Menjadi Raja Arab Saudi
Pada bulan Rabiul Awal bertepatan dengan November 1953, Raja Faishal diangkat menjadi raja Arab Saudi menggantikan saudaranya, Raja Saud bin Abdul Aziz. Sebelumnya Raja Faishal menduduki posisi putra mahkota (crown prince). Ia dilantik menjadi raja tanggal 2 November 1964.
Dalam pidato pertamanya sebagai raja, ia mengatakan, “Aku memohon kepada saudara-saudaraku, untuk mengangap aku sebagai seorang saudara dan pelayan Anda, kemuliaan hanyalah milik Allah.”

Salah satu kebijakan penting yang dibuat Raja Faishal di awal pemerintahannya adalah ia menghapus aturan-aturan yang terkesan mebuat jarak antara raja dan rakyatnya dan hubungan antara sesama rakyat; ia menghapuskatn protokoler mencium tangan raja dalam acara kenegaraan, menghapuskan perbudakan, bagi mereka yang memiliki budak agar segera membebaskan budak-budak tersebut dan negara menanggung kompensasinya. Negara mengeluarkan 60 juta Real untuk pembebasan budak. Tidak berhenti sampai disitu, mantan budak ini diakui dan dimuliakan oleh negara dengan diberi kewarganegaraan.

Kemudian Raja Faishal juga secara progresif memperbaiki perekonomian kerajaan yang cukup terpuruk. Di awal pemerintahannya kas negara hanya sebesar 2.000.000.000 Real kemudian di tahun 1975 menjadi 22. 810.000.000 Real. Upaya-upaya perbaikan ekonomi terus dilakukan oleh Raja Faishal terutama membebaskan ketergantungan Real terhadap Dolar Amerika.

Perbaikan di sektor pendidikan pun menjadi perhatian utama Raja Faishal, karena ia menyadari pondasi utama untuk memperbaiki dan membangun negara adalah berangkat dari kualitas pendidikan yang baik. Ia membangun banyak sekolah di seluruh wilayah Arab Saudi, sekolah untuk anak laki-laki dan anak perempuan, kemudian juga membangun universitas dan tempat-tempat penelitian ilmiah.
Pembangunan-pembangunan fisik dan infrastruktur yang baik juga tidak lepas dari perhatiannya; pembangunan jalan-jalan, jaringan listrik, fasilitas perairan, pabrik-pabrik dan kilang minyak, penyiaran, dan telekomunikasi.

Kebijakan Politik Luar Negeri
Banyak sekali kebijakan-kebijakan luar negeri Raja Faishal yang berpihak kepada Islam dan dunia Arab. Ia membentuk Rabithah al-‘Alam al-Islami. Ia juga terkenal sebagai pemimpin Arab yang sangat vokal dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, memfasilitasi organisasi yang berjuang untuk kemerdekaan tersebut baik secara materi maupun lobi-lobi politik.

Dalam sebuah pidatonya yang fenomenal, tentang pembebasan Palestina, ia menyerukan rakyatnya untuk berjihad melawan Yahudi di tanah Palestina.

“Saudara-saudaraku, apa yang kita tunggu? Apakah kita menunggu nurani dunia? Dimanakah nurani dunia itu?

Sesungguhnya al-Quds yang mulia memanggil kalian dan meminta tolong kepada kalian, wahai saudara-saudara, agar kalian menolongnya dari musibah dan apa yang menimpanya. Apa yang membuat kita takut? Apakah kita takut mati? Padahal adakah kematian yang mulia dan lebih utama dari orang yang mati berjihad di jalan Allah?

Wahai saudaraku kaum muslimin, kita semua harus bangkit! demi kebangkitan Islam, yang tidak dipengaruhi oleh kesukuan, kebangsaan, dan juga partai. Tapi dakwah islamiyah, seruan kepada jihad fi sabilillah, di jalan membela agama dan akidah kita, membela kesucian kita.

Dan aku berharap kepada Allah, jika menetapkan aku mati, maka agar Dia aku syahid fi sabilillah.
Saudaraku, maafkanlah aku, agar kalian tidak menuntutku. Karena sesungguhnya ketika aku berteriak (saat ini), masjid mulia kita sedang dihinakan dan dilecehkan, dipraktekkan di dalamnya kekejian, kemaksiatan, dan penyimpangan moral.

Sesungguhnya aku berharap kepada Allah dengan ikhlas, jika aku tidak mampu melaksanakan jihad, tidak mampu membebaskan al-Quds … agar dia tidak menghidupkan aku setelah ini..”

Raja Faishal meneruskan langkah sang ayah, Raja Abdul Aziz, menjalin hubungan diplomatik yang erat dengan Amerika Serikat. Dua negara ini bekerja sama dalam perdagangan senjata dan pelatihan militer sampai akhirnya hubungan ini pun retak dikarenakan campur tangan Amerika terhadap isu-isu sensitif di Timur Tengah.

Pada tahun 1973, Amerika menekan negara-negara Arab, khususnya Mesir, dalam Perang Yom Kipur. Negara adidaya tersebut mengancam akan menyerang Mesir apabila Mesir meneruskan agresinya ke Israel. Mendengar kabar tersebut Raja Faishal pun marah dan menyatakan perang secara ekonomi dengan Amerika Serikat dengan cara mengembargo ekspor minyak mereka ke negara adidaya itu. Kebijakan ini benar-benar menciutkan Amerika beserta negara-negara Pakta Perlawanan Atlantik Utara (N.A.T.O) yang mendukungnya.

Presiden Amerika saat itu, Richard Nixon sampai turun tangan langsung untuk meredakan kemarahan Raja Faishal. Ia datang ke Arab Saudi untuk berdialog dengan Raja Faishal membahas embargo yang dilakukan Saudi. Namun Nixon harus pulang dengan rasa rendah diri setelah mendengar ucapan Raja Faishal, “Tidak akan ada perdamaian sebelum Israel mengembalikan tanah-tanah Arab yang dirampas pada tahun 1967!”

Wafatnya
Apa yang dilakukan Raja Faishal terhadap Richard Nixon dan negaranya ternyata berbuntut panjang, dan disinyalir menjadi penyebab kematiannya. Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1395 /  25 Maret 1975, keponakan Raja Faishal yang bernama Faishal bin Mus’ad bin Abdul Aziz yang baru saja pulang dari Amerika datang menemuinya. Di ruang tunggu, Faishal bin Mus’ad berbicara dengan delegasi Quwait yang juga ingin bertemu Raja.

Saat Raja datang menemui mereka, Faishal bin Mus’ad mendekati Raja dan berpura-pura hendak memeluknya, Raja Faishal yang tidak mengetahui niat busuk keponakannya ini dengan senang hati menyambut keponakannya dan mendekatinya untuk menciumnya sebagaimana budaya Arab Saudi pada umumnya. Lalu Faishal bin Mus’ad mengeluarkan pistolnya, dan menembakkannya kea rah Raja Faishal; tembakan pertama mengenai dagu Raja Faishal dan tembakan kedua mengenai telinganya. Para pengawal Raja menangkap Faishal bin Mus’ad dan menghentikan kebrutalannya lalu raja segera dibawa ke rumah sakit. Namun sayang, nyawa Raja Faishal sudah tidak tertolong lagi karena kehilangan banyak darah. Ia wafat tidak lama setelah kejadian itu.

Dari hasil penyidikan, disinyalir bahwa Faishal bin Mus’ad memiliki gangguan jiwa, namun ada juga yang menyatakan ia hendak membalas dendam atas tewasnya saudaranya Khalid bin Mus’ad karena kekeliruan kebijakan kerajaan. Faishal bin Mus’ad pun divonis hukum pancung. Eksekusi dilaksanakan di Riyadh, 18 Juni 1975, di sore hari.

Semoga Allah membalas jasa-jasa Raja Faishal untuk Islam dan kaum muslimin dan menempatkannya di surga yang penuh kedamaian.





Sumber: islamstory.com dll.
Ditulis oleh Nurfitri Hadi

Mualaf-Mualaf Yang Memiliki Pengaruh Besar Dalam Sejarah Islam

Mualaf-Mualaf Yang Memiliki Pengaruh Besar Dalam Sejarah Islam


Keluarga Barmakid (600 M – 900 M)
Keluarga Barmakid adalah sebuah keluarga Budha yang berpengaruh dari daerah Balkh, sekarang berada di teritorial Afghanistan. Pada saat Dinasti Umayyah menaklukkan daerah tersebut, pada pertengahan tahun 600-an M, keluarga ini pun memeluk Islam. Setelah revolusi Abbasiyah tahun 750 M, keluarga Barmakid mulai menunjukkan bakat mereka sebagai administrator yang handal. Mereka mewarisi pengalaman nenek moyang mereka yang pernah mengurusi birokrasi kerajaan Persia selama berabad-abad. Pengalaman mengurusi birokrasi yang besar inilah yang tidak dimiliki oleh keluarga Abbasiyah.

Sebagai menteri atau pelaksana pemerintahan, keluarga Barmakid memiliki pengaruh yang signifikan dalam stabilitas kerajaan di akhir abad ke-8, Yahya bin Khalid al-Barmaki adalah adalah salah satu contohnya. Yahya ditunjuk sebagai mentor Harun al-Rasyid yang masih belia kala itu. Hasilnya sudah kita ketahui, Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah terbaik di zaman Abbasiyah dan berhasil membawa kerajaan tersebut mencapai masa keemasan. Di bawah arahan dan bimbingannya, Harun al-Rasyid membangun hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga, menumbuhkan ekonomi progresif, jaminan terhadap para ulama, dan sistem infrastruktur yang menyaingi kemegahan Romawi kuno di zamannya. Keluarga Barmakid lah yang sangat mempengaruhi menajemen perpolitikan dunia Islam yang berlangsung hingga beberapa abad.

Berke Khan (wafat tahun 1266 M)
Ia adalah cucu dari Jenghis Khan sang penakluk dari Mongol. Berke Khan merupakan tokoh penting dalam sejarah Mongol pada pertengahan tahun 1200-an M. Ia adalah raja Dinasti Golden Horde, salah satu generasi yang membawa bangsa Mongol mengecap masa keemasan mereka. Sebagaimana nenek moyangnya, Berke juga menganut paham Shamanisme sebelum ia memeluk Islam. Berke adalah seorang pemimpin yang kuat, ia pernah mengirim pasukan ke Utara pegunungan Kaukasus dan Tenggara Eropa untuk menaklukkan orang-orang Kipchak Turki. Ia juga memobilisasi pasukannya untuk menaklukkan seluruh wilayah Hungaria.

Setelah misi militernya selesai di wilayah-wilayah tersebut, dalam perjalanan pulang menuju Mongol, ia singgah di wilayah Bukhara, tempat dimana rasa keingintahuannya tentang Islam muncul. Lalu ia bertanya tentang Islam kepada penduduk setempat. Mendengar penjelasan-penjelasan tentang Islam, Berke meyakini pesan-pesan yang dibawa oleh agama Islam benar-benar sejalan dengan tujuan penciptaan manusia dan mendamaikan jiwanya yang tidak tenang dalam keyakinan animisme dan dinamisme yang dibawa oleh ajaran Shamaniah. Ia pun memutuskan untuk memeluk agama Islam sekaligus menjadi pemimpin Mongol pertama yang menerima Islam. Keislamannya juga diikuti oleh banyak prajuritnya.

Keislaman Berke dan pasukannya secara otomatis menanamkan jiwa persaudaraan mereka sesama umat Islam. Saat itulah mulai muncul ketegangan ditubuh pasukan Mongol, terutama dengan kubu sepupunya Hulagu Khan dari Dinasti Chagtai. Hulagu Khan adalah penguasa Mongol untuk wilayah bekas-bekas kerajaan Persia, ia dikenal kejam dan sangat mirip dengan kakek mereka Jenghis Khan. Hulagu telah membantai jutaan umat Islam dalam ekspansi-ekspansinya di wilayah-wilayah Islam.

Setelah mendengar jatuhnya Baghdad oleh sepupunya, Hulaghu Khan, pada tahun 1258, dengan penuh keyakinan dan semangat persaudaraan sesama muslim, ia kesampingkan pertalian darah atau nasabnya dengan Hulagu. Ia mengatakan “Hulagu telah memporak-porandakan semua kota-kota Islam dan membunuh khalifah, dengan pertolongan Allah aku akan membalas dan membuat perhitungan dengannya atas banyak darah umat Islam yang ia tumpahkan.” Dengan dukungan pasukan kerajaan Mamluk di Mesir, Berke memobilisasi pasukannya untuk memukul mundur pasukan Hulagu.

Zaganos Pasha (1446–1466 M)
Zagaros Pasha adalah seseorang yang berasal dari Yunani ada juga yang mengatakan seorang Albania. ia direkrut menjadi Yenicheri, korps elit kekaisaran Utsmani. Seperti Yenicheri lainnya, ia dibekali ilmu agama Islam, administrasi pemerintahan, dan pelatihan militer. Ia ditunjuk menjadi mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad al-Fatih yang masih sangat belia.

Saat Mehmed menjabat sebagai raja Utsmani, Zaragos pun diangkat menjadi seorang menteri. Zaragos selalu dilibatkan dalam semua urusan negara, terutama rencana penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Saat penyerangan Konstantinopel, Zaragos ditugaskan mengepung benteng Konstantinopel dari bagian Utara, dan pasukannya merupakan rombongan pertama yang berhasil menyentuh dinding Konstantinopel yang dikenal begitu kokoh. Peninggalan-peninggalan Zaragos masih tersisa di wilayah Edrine berupa masjid, dapur umum, dan pemandian umum.

Ibrahim Muteferrika (1674 – 1745 M)
Isu yang sering diarahkan kepada kerajaan Utsmani adalah ilmu pengetahuan pada masa kerajaan ini tidak berkembang, stagnan, dan sangat minim dengan inovasi, tidak berbanding dengan luasnya wilayah kerajaan dan lamanya masa kekuasaan mereka. Seorang yang berasal dari Hungaria, Ibrahim Muteferrika, mendengar dan mengamati isu yang beredar ini. Sebagai seorang diplomat yang ditugaskan menjembatani hubungan Utsmani dan Eropa, khususnya Prancis dan Swedia, Ibrahim Muteferrika menangkap peluang dari kebangkitan Eropa (Renaissance) dimana penggunaan mesin cetak menjadi budaya baru dan menurut Ibrahim orang-orang Eropa belum optimal menggunakan alat tersebut. Ia pulang ke Istanbul dengan misi mengembangkan inovasi percetakan dengan alat tersebut.

Ibrahim mulai mencetak dan menerbitkan atlas dunia yang berisikan peta-peta berbagai negara, kamus-kamus, dan buku-buku agama. Di antara hasil percetakannya yang paling terkenal adalah sebuah atlas yang dibuat oleh seorang ahli geograpi yang terkenal, Katip Celebi, yang menggambarkan peta dunia di zaman tersebut dengan tingkat detail dan presisi yang luar biasa. Selain mengembangkan percetakan buku-buku, Ibrahim Muteferrika juga menulis beberapa buku tentang sejarah, teologi, sosiologi, dan astronomi.

Alexander Russel Webb (1846 – 1965 M)
Di akhir abad 19, dunia jurnalistik Amerika mulai memasuki era baru. Pengaruh dunia tulis-menulis sangat besar dan efektif dalam membentuk opini di masyarakat. Salah seorang yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Alexander Russel Webb. Awalnya, Webb adalah seseorang yang beragama Kristen, namun semakin hari agama tersebut malah menimbulkan keraguan baginya, hingga hilanglah kepercayaannya dengan agama Kristen.

Setelah kepercayaan terhadap agama Kristen hilang, ia mulai membuka diri dan mempelajari agama-agama selain Kristen. Dan tiba-tiba ia merasakan ketertarikan terhadap Islam. Ketika ditunjuk pemerintah Amerika untuk menjadi salah satu pejabat kedutaan Amerika di Philipina tahun 1887, ia menggunakan kesempatan ini untuk berkorespondensi dengan temannya, seorang penganut Ahmadiyah dari India dan bertanya tentang Islam kepadanya.

Meskipun keislamannya dimulai dengan menganut paham Ahmadiyah, ia terus mengembangkan wawasan keislamannya dengan menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam dan bertemu dengan para ulama-ulama Islam sehingga ia mendapatkan pemahaman yang baik tentang Islam dan terlepas dari pengaruh Ahmadiyah.
Tahun 1893, ia mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan kembali ke Amerika. Di negeri Paman Sam inilah ia memulai dakwahnya menyeru kepada Islam. Dengan kemampuan jurnalistiknya, ia menulis beberapa buku dan kolom-kolom opini di media masa menjelaskan kepada masyarakat Amerika tentang Islam. Di awal abad 20, ia semakin dikenal sebagai seorang muslim yang giat dan vokal dalam mendakwahkan Islam di Amerika, bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, memberinya gelar kehormatan dari kerajaan sebagai apresiasi terhadap apa yang telah ia lakukan. Alexander Russel Webb wafat pada tahun 1916 dan dimakamkan di New Jesrey. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya.

Malcolm X (1925 – 1965 M)
Banyak hal yang bisa diceritakan dari perjalanan hidup Malcolm X karena perjalanan hidupnya tidak semulus tokoh-tokoh sebelumnya. Hidupnya sempat diwarnai rekam jejak negatif. Terlahir sebagai seorang kulit hitam adalah sebuah masalah di zamannya, karena masyarakat Amerika masih memarjinalkan orang-orang kulit hitam. Malcolm memulai masa mudanya yang keras dan berusaha menunjukkan eksistensinya di kehidupan, walaupun terkadang itu membawa masalah bagi dirinya sendiri. Ia pernah dikeluarkan oleh sekolahnya dan masuk bui di tahun 1946 karena kasus kriminal yang ia lakukan.

Selama 8 tahun mendekam di jeruji besi, Malcolm mulai terpengaruh dengan pemikiran “Negara Islam” yang dibawa oleh salah satu kelompok yang menyimpang yang didirikan pada tahun 1900-an. Kelompok ini mengkampanyekan supremasi orang-orang kulit hitam dan ras kulit putih adalah kelompok setan. Tentu saja latar belakang berdirinya kelompok ini adalah penindasan yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih terhadap orang-orang kulit hitam. Setelah bebas dari penjara, Malcolm bertemu dengan “Nabi” gerakan NOI (Nation of Islam), Elijah Muhammad, Malcolm pun diangkat sebagai mentri dalam NOI.

Pada tahun 1950-an, Malcolm menduduki jabatan tertinggi dalam kelompok ini. Hal itu dikarenakan kecerdasannya dan retorikanya yang baik. Di era kebebasan Amerika kala itu, Malcolm menjadi seorang pejuang hak asasi yang terkemuka. Ia mengadvokasi hak-hak warga Amerika keturunan Afrika agar menjadi setara dengan orang-orang kulit putih. Perjuangan Malcolm ini sama halnya dengan Martin Luther King yang berusaha menjadikan hak warga kulit hitam setara dengan kulit putih, hanya saja, perjuangan Malcolm cenderung lebih keras dan radikal.

Tahun 1950-an terjadi transformasi lagi pada ideologi Malcolm, ia mulai melihat celah dan kekeliruan gerakan Nation of Islam. Ia pun meninggalkan gerakan ini dan mulai mengkaji Islam, mencari nilai-nilai murni dari ajaran Islam yang penuh kedamaian. Ketika ber-haji di tahun 1964, saat itulah ia menemukan hakikat ajaran Islam. Ia pulang ke Amerika lalu mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran tersebut ke warga Afrika-Amerika di lingkungannya.

Di masa-masa perubahan ini pulalah Malcolm mulai angkat bicara tentang penyimpangan paham Nation of Amerika. Satu demi satu anggota Nation of Islam keluar dari gerakan tersebut, namun tidak sedikit pula anggota-anggota gerakan ini yang membenci dan memusuhinya. Puncaknya adalah pembunuhan terhadap dirinya pada tahun 1965 oleh anggota gerakan Nation of Islam.
Walaupun masa keislamannya tidak begitu lama, Malcolm X dianggap memiliki pengaruh besar bagi perjuangan umat Islam di Amerika dan persamaan hak warga kulit hitam yang termarjinalkan.





Oleh ustadz Nur Fitri Hadi, MA

Perencanaan Keuangan ala Nabi Yusuf

Perencanaan Keuangan ala Nabi Yusuf

Perencanaan Keuangan
PERENCANAAN keuangan bisa dibilang ilmu baru di Indonesia yang mulai dipraktekkan pada akhir 1990-an atau awal 2000-an. Di negara-negara maju, justru telah populer sejak puluhan tahun sebelumnya.
Sejatinya, ilmu perencanaan keuangan sudah dipraktekkan puluhan ribu tahun silam. Di antara bukti sejarahnya, kisah Nabi Yusuf AS yang membuat dan mempraktekkan strategi menghadapi masa paceklik.
Al-Quran mencatat kisah Yusuf menerjemahkan mimpi Raja Mesir. Dalam tidurnya, sang raja melihat 7 ekor sapi gemuk yang digantikan 7 ekor sapi kurus serta gandum berisi digantikan gandum kering.

Banyak orang yang telah diminta pendapat mengenai arti mimpi tersebut. Tapi hanya Yusuf yang bisa memberi tahu maknanya. Katanya seperti tersirat dalam sejarah, akan datang 7 tahun masa panen, yang kemudian diikuti 7 tahun masa paceklik. Setelah itu, masa subur Mesir akan kembali.

Seperti kita tahu, sejak zaman dahulu kala, pertanian Mesir sangat bergantung pada Sungai Nil. Jika sungai mengalirkan airnya dengan baik, wilayah Mesir subur dan hasil panennya melimpah. Tapi, bukan tidak mungkin Sungai Nil mengering atau bahkan meluap.

Usai memaknai mimpi, Yusuf melanjutkan nasihatnya pada sang raja. “Hendaklah engkau bertanam 7 tahun lamanya sebagaimana biasa. Maka apa yang engkau tuai hendaknya kau biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk engkau makan.” [Surah Yusuf ayat 47]

Selain membuat prakiraan kondisi di masa depan, Yusuf juga memberikan solusinya. Mengingat 7 tahun masa panen diikuti 7 tahun masa paceklik, hendaknya kita menyimpan hasil panen tetap dalam bulirnya sebagai cadangan saat paceklik tiba.

Sejarah membuktikan, walaupun menghadapi masa paceklik, rakyat Mesir tetap Makmur lantaran ada yang disimpan dari hasil panen sebelumnya. Sampai rakyat dari negeri tetangga yang kelaparan pun meminta bantuan mereka.

Bagi kita yang hidup di zaman sekarang, masa panen adalah masa produktif bekerja atau berbisnis. Masa pacekliknya, yaitu pensiun kelak. Hendaknya kita juga menyimpan hasil panen saat ini untuk menghadapi masa paceklik nanti.

Menariknya dari perkataan Yusuf adalah agar tetap menyimpan hasil panen dalam bulirnya, kecuali sedikit untuk dimakan. Saya mendapatkan kesan dari ayat ini bahwa hasil produksi kita sekarang seharusnya disimpan terlebih dahulu kecuali sedikit yang dikonsumsi. Bukannya dibelanjakan dulu, jika ada sisa lalu disimpan.

Terinspirasi dari kisah ini, saya menggunakan istilah “saving dulu, baru shopping”, seperti termaktub dalam buku saya yang berjudul: “Habiskan Saja Gajimu”. Model belanja dulu kemudian menyimpan, ternyata tidak efektif.

Hal kedua yang menarik dalam pernyataan Yusuf, yaitu panen 7 tahun dan paceklik 7 tahun. Secara logika matematika, mestinya separuh disimpan dan separuh dimakan bisa mencukupi. Tapi ayat tadi memerintahkan untuk makan sedikit saja, atau kurang dari setengah. Kenapa?

Nilai gandum memang tidak akan berkurang jika disimpan dalam bulirnya. Tapi, jumlah penduduk Mesir tentu bertambah banyak selama 7 tahun tersebut. Maka diperlukan jumlah gandum yang lebih besar untuk memberi makan rakyat di masa depan.

Dalam konteks kehidupan sekarang, ini yang kita sebut sebagai inflasi.  Nominal uang yang kita simpan mungkin tetap atau bertambah, tapi harga-harga bertambah mahal. Maka strategi yang bisa kita tiru adalah memperkecil konsumsi, perbesar investasi.

Tanpa harus punya keahlian membaca mimpi seperti Nabi Yusuf, kita sudah tahu bahwa harga-harga naik di masa depan. Kita sudah faham kebutuhan bertambah besar seiring perkembangan keluarga. Kita pun mafhum akan menghadapi masa tidak produktif saat pensiun.

Akankah kita diam saja? Atau lakukan sesuatu seperti Nabi Yusuf lakukan?
Salam Berkah,

Selalu Rindu Kembali ke Baitullah


Selalu Rindu Kembali ke Baitullah


Saat menunaikan ibadah haji, Anda akan merasakan kenikmatan yang berbeda di Mekkah, Arab Saudi. Meski sudah berada di Tanah Air, rasa rindu untuk kembali ke Baitullah selalu ada.
Menunaikan rukun Islam ke-5 yaitu naik haji, wajib hukumnya bila rezeki sudah berkecukupan, badan sehat dan masih muda. Bila Anda memiliki semua itu, bersegeralah untuk memenuhi panggilan-Nya beribadah ke Tanah Suci.

Saat musim haji, maka berduyun-duyun umat Islam datang dari segala penjuru dunia untuk memenuhi panggilan-Mu ke Tanah Suci. Menunaikan ibadah haji atau berumroh, semata-mata untuk mendapatkan ridho dari-Nya.

Meskipun Anda telah menunaikan ibadah haji, tentunya Anda masih ingin kembali ke Baitullah. Bila semuanya memungkinkan, ingin selalu menumpahkan rasa rindu dengan Tanah Suci dengan berumroh.

"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan, jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku dan yang sujud." Demikian firman Allah dalam QS Al Baqarah, ayat 125.

Tangis tak pernah bisa terbendung, ketika membaca doa Tawaf Wada. Lantunan doa di depan Ka'bah, di antara Maqom Ibrahim dan Hijir Ismail. Saat itu, hati terasa sedih ketika hendak berpamitan pulang.

"Bismillah, Allahu Akbar, Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah jua, tiada Tuhan yang disembah selain Allah dan Allah Maha Agung.  Ya Allah, Engkau sendiri telah memudahkan aku untuk datang ke negeri Mu ini dan Engkau telah menympaikan nikmat-Mu untukku.
Sekarang izinkan aku untuk pulang. Ya Allah janganlah Engkau jadikan waktuku ini  masa terakhirku dengan rumah-Mu. Sekiranya Engkau jadikan masa terakhirku maka  gantilah surga untukku dengan rahmat-Mu. Wahai Tuhan yang maha Kasih Sayang lebih dari segenap yang kasih, amin ya rabbal alamin."

Sebentar lagi saudara-saudara kita akan melakukan wukuf di Arafah. Selanjutnya, mereka akan melempar Jumrah dan Tawaf Wada. Insya Allah, selama melaksanakan ibadah haji, mereka bisa menjadi haji mabrur saat pulang ke Indonesia.

Popular post

Entri Populer

INFORMASI POPULER

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Nurul Asri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger