Latest Post

WIRID MUHASABAH

HISABLAH DIRIMU SEBELUM DIHISAB NANTI DAN TIMBANGLAH AMAL PERBUATANMU SEBELUM DITIMBANG (DI MAHKAMAH ILAHI)
  1. Sudahkah kita mengingat Allah  ketika bangun tidur ?
  2. Sudahkah kita shalat subuh di masjid hari ini ?
  3. Sudahkah kita membaca Adzkar (dzikir)  pada pagi hari ini ?
  4. Sudahkah kita memulai hari dengan meminta kepada Allah agar diberi rizki yang halal dan berhati-hati dalam mencarinya ?
  5. Sudahkah kita memohon sebanyak tiga kali kepada Allah agar memasukkan kita ke dalam surga ? Karena siapa yang memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam surga maka surga berkata : "Ya Allah masukkan dia ke dalam surga.
  6. Sudahkah kita memohon perlindungan Allah dari siksa neraka sebanyak tiga kali ? Sebab neraka akan berkata : "Ya Allah selamatkan dia dari neraka.
  7. Sudahkah kita memelihara seluruh shalat kita dengan berjamaah di masjid pada waktunya ?
  8. Sudahkah pada hari ini kita melaksanakan shalat Rawatib dan Thatawwu (sunat)?
  9. Sudahkah kita disiplin membaca wirid setiap selesai adzan dan shalat ?
  10. Sudahkah pada hari ini kita khusyu' dalam shalat dengan menghayati apa yang kita baca ?
  11. Sudahkah kita bertakwa kepada Allah dalam menjalankan usaha, makan, minum dan berpakaian ?
  12. Sudahkah kita memuji Allah atas nikmat Islam ?
  13. Sudahkah kita memuji Allah atas nikmat pendengaran, penglihatan, hati dan segala nikmat lain ?
  14. Sudahkah kita memanfaatkan waktu-waktu istijabah (dikabulkannya doa) dan berdoa di dalamnya?
  15. Sudahkah kita membaca, mengaji, menghafal dan mengamalkan sesuatu isi Kitabullah?
  16. Sudahkah kita membaca, mengkaji, menghafalkan dan mengamalkan dari hadist Rasulullah SAW?
  17. Sudahkah pada hari ini kita belajar sesuatu dari kewajiban-kewajiban agama dan hadir di pengajian?
  18. Sudahkah anda pada hari ini menjaga pendengaran, penglihatan, dan seluruh tubuh dari perbuatan haram?
  19. sudahkah anda pada hari ini membaca Sholawat atas Nabi Muhammad SAW?
  20. Sudahkah anda pada hari ini menjenguk orang sakit?
  21. Sudahkah hari ini anda melayat jenazah (memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan)? 
  22. Sudahkah anda hari ini memerintahkan perbuatan ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar
  23. Sudahkah anda memberi nasehat karena Allah? 
  24. Sudahkah anda menolong sesama Muslim? 
  25. Sudahkah anda mengetahui perjanjian dan menepatinya? 
  26. Sudahkah anda ikhlas karena Allah dalam setiap perbuatan baik dikala sepi ataupun ramai? 
  27. Sudahkah anda hidup sederhana dalam keadaan miskin maupun kaya? 
  28. Sudahkah anda menyambung tali silaturrahmi yang terputus? 
  29. Sudahkah anda berlaku adil, baik dalam keadaan marah atau senang? 
  30. Sudahkah anda memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada diri anda dan memberi sesuatu kepada orang yang tidak pernah memberi kepada anda? 
  31. Sudahkah pada hari ini, diam adalah berfikir, ucapan anda adalah dzikir dan pendengaran anda adalah pelajaran? 
  32. Sudahkah anda mencintai dan membenci karena Allah? 
  33. Sudahkah anda berfikir untuk menjauhi teman yang jahat dan memilih teman yang baik? 
  34. Sudahkah anda berusaha keras untuk mencari kenalan dan saudara baru dijalan Allah?
  35. Sudahkah anda berupaya menghindari banyak tertawa? 
  36. Sudahkah anda hari ini menangis karena takut kepada Allah? 
  37. Sudahkah hari ini anda memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa anda? 
  38. Sudahkah anda berdo’a kepada Allah agar diteguhkan hari anda pada Dien-Nya? 
  39. Sudahkah hari ini anda berdoa untuk memintakan ampunan untuk orang-orang yang beriman? 
  40. Sudahkah hari ini anda tersenyum kepada sesama saudara muslim? 
  41. Sudahkah hari ini anda tersenyum kepada saudara Muslim? 
  42. Sudahkah anda meninggalkan amarah karena kepentingan diri sendiri dan berusaha tidak marah, kecuali karena Allah? 
  43. Sudahkah hati anda dibersihkan dari penyakit-penyakitnya? 
  44. Sudahkah lidah anda dibersihkan dari berbohong, mengumpat, mengadu domba, berbantahan dan berkata sia-sia? 
  45. Sudahkah anda membiasakan diri anda pada hal-hal yang baik, seperti santun, sabar, wara’, takwa, kasih-sayang, tawakkal dan ikhlas? 
  46. Sudahkah bila ditimpa musibah dan mengatakan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya pula kami akan kembali)? 
  47. Sudahkah anda berdoa hari ini “Allahumma inni a’udzubika an nusyrika bika syai’an na’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu” (Ya Allah, Aku berlindung dengan-Mu dari menyekutukan-Mu yang aku tahu, dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari yang tidak aku ketahui)? 
  48. Sudahkah anda memelihara sunnah Nabi, baik perkataan atau perbuatan? 
  49. Sudahkah anda mengingat mati, alam kubur, dan hari akhir dengan segala mara bahayanya? 
  50. Sudahkah anda berpuasa hari Senin dan Kamis serta puasa tiga hari pada setiap bulannya (yaumul bidh)? 
  51. Sudahkah anda mengulang dzikir-dzikir khusus, seperti keluar masuk masjid, keluar masuk rumah, kamar belakang, ketika makan dan mengenakan pakaian? 
  52. Sudahkah anda memenuhi kewajiban atas diri dan harta anda, hak kedua orang tua anda, hak istri anda, hak karib kerabat dan tetangga anda dan hak da’wah dijalan Allah? 
  53. Sudahkah anda melaksanakan amalan dimalam hari dan hari Jum’at seperti mandi, mengenakan pakaian yang paling bagus, mengenakan wangi-wangian, berusaha mendapatkan waktu-waktu istijabah, membaca surat Al Kahfi, memperbanyak shalawat Nabi, dll? 
  54. Ibnu Umar berkata: “Bila menjelang sore, janganlah kamu menanti pagi, dan jika menjelang pagi, janganlah kamu menanti sore. Gunakanlah sehatmu untuk sakitmu dan gunakanlah hidupmu untuk matimu. 
  55. Sudahkah anda menutup hari anda dengan taubatan nashuha, istighfar dengan khusyu’? 
Jadikanlah Muhasabah (Introspeksi) ini sebagai jadwal harian untuk meraih kebahagiaan hari ini dan yang akan datang.

Meraih Takwa Melalui Ibadah Qurban

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.
Sebuah ayat yang menjadi pertanda disyari’atkannya ibadah qurban adalah firman Allah Ta’ala,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu  ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.[1]
Penyembelihan qurban ketika hari raya Idul Adha disebut dengan al udh-hiyah, sesuai dengan waktu pelaksanaan ibadah tersebut.[2] Sehingga makna al udh-hiyyah menurut istilah syar’i adalah hewan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, dilaksanakan pada hari an nahr (Idul Adha) dengan syarat-syarat tertentu.[3]
Dari definisi ini, maka yang tidak termasuk dalam al udh-hiyyah adalah hewan yang disembelih bukan dalam rangka taqorrub pada Allah (seperti untuk dimakan, dijual, atau untuk menjamu tamu). Begitu pula yang tidak termasuk al udh-hiyyah adalah hewan yang disembelih di luar hari tasyriq walaupun dalam rangka taqarrub pada Allah. Begitu pula yang tidak termasuk al udh-hiyyah adalah hewan untuk aqiqah dan al hadyu yang disembelih di Mekkah.[4]
Catatan: Aqiqah adalah hewan yang disembelih dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran anak yang diberikan oleh Allah Ta’ala, baik anak laki-laki maupun perempuan. Sehingga aqiqah berbeda dengan al udh-hiyyah karena al udh-hiyyah dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat kehidupan, bukan syukur atas nikmat kelahiran si buah hati. Oleh karena itu, jika seorang anak dilahirkan ketika Idul Adha, lalu diadakan penyembelihan dalam rangka bersyukur atas nikmat kelahiran tersebut, maka sembelihan ini disebut dengan sembelihan aqiqah dan bukan al udh-hiyyah.[5]
Hikmah di Balik Menyembelih Qurban
Pertama: Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
Kedua: Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –khlilullah (kekasih Allah)- ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
Ketiga: Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma’il pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat  kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya.[6]
Keempat: Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang semisal dengan hewan qurban.[7]
Raihlah Ikhlas dan Takwa dari Sembelihan Qurban
Menyembelih qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah Ta’ala berfirman,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al An’am: 162). Di antara tafsiran an nusuk adalah sembelihan, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid dan Ibnu Qutaibah. Az Zajaj mengatakan bahwa bahwa makna an nusuk adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri pada Allah ‘azza wa jalla, namun umumnya digunakan untuk sembelihan.[8]
Ketahuilah, yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, dan bukan hanya daging atau darahnya. Allah Ta’ala berfirman,
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)
Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah qurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari qurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), “ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan.[9]
Menyembelih Qurban Wajib ataukah Sunnah?
Menyembelih qurban adalah sesuatu yang disyari’atkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus kaum muslimin).[10] Namun apakah menyembelih tersebut wajib ataukah sunnah? Di sini para ulama memiliki beda pendapat.
[Pendapat pertama] Diwajibkan bagi orang yang mampu
Yang berpendapat seperti ini adalah Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, Rabi’ah, Al Laits bin Sa’ad, Al Awza’i, Ats Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.
Di antara dalil mereka adalah firman Allah Ta’ala,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Dirikanlah shalat dan berkurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Hadits ini menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diwajibkan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya.[11] Dan masih ada beberapa dalil lainnya.
[Pendapat kedua] Sunnah dan Tidak Wajib
Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih qurban adalah sunnah mu’akkad. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali, pendapat yang paling kuat dari Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakr, ‘Umar bin Khottob, Bilal, Abu Mas’ud Al Badriy,  Suwaid bin Ghafalah, Sa’id bin Al Musayyab, ‘Atho’, ‘Alqomah, Al Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.
Di antara dalil mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.”[12] Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul qurban itu sendiri.
Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.
Begitu pula alasan tidak wajibnya karena Abu Bakar dan ‘Umar tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib[13]. Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mewajibkannya. Ditambah lagi tidak ada satu pun sahabat yang menyelisihi pendapat mereka. [14]
Dari dua pendapat di  atas, kami lebih cenderung pada pendapat kedua (pendapat mayoritas ulama) yang menyatakan menyembelih qurban sunnah dan tidak wajib. Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakr dan Umar yang pernah tidak berqurban. Seandainya tidak ada dalil dari hadits Nabi yang menguatkan salah satu pendapat di atas, maka cukup perbuatan mereka berdua sebagai hujjah yang kuat bahwa qurban tidaklah wajib namun sunnah (dianjurkan).
فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا
Jika kalian mengikuti Abu Bakr dan Umar, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk.[15]
Namun sudah sepantasnya seorang yang telah berkemampuan untuk menunaikan ibadah qurban ini agar ia terbebas dari tanggung jawab dan perselisihan yang ada. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “Janganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.” Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. Wallahu a’lam.”[16]
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan  ibadah yang mulia ini dan menerima setiap amalan sholih kita. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amalan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Read more https://rumaysho.com/631-meraih-takwa-melalui-ibadah-qurban.html

Qadha’ Puasa dan Fidyah

Siapakah yang harus membayar qadha’ puasa dan menunaikan fidyah? Bagaimanakah cara menunaikannya? Tulisan ini semoga bisa menjawabnya.

Siapakah yang Terkena Qadha’ Puasa?

Yang dimaksud dengan qadha’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya.[1]Adapun orang yang dikenakan qadha’ puasa adalah orang yang sakit dan sakitnya memberatkan untuk puasa, wanita hamil dan menyusui apabila berat untuk puasa, seorang musafir, juga wanita yang mendapati haidh dan nifas.

Qadha’ Ramadhan Boleh Ditunda

Qadha’ Ramadhan boleh ditunda, maksudnya tidak mesti dilakukan setelah bulan Ramadhan yaitu di bulan Syawal. Namun boleh dilakukan di bulan Dzulhijah sampai bulan Sya’ban, asalkan sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Di antara pendukung hal ini adalah ‘Aisyah pernah menunda qadha’ puasanya  sampai bulan Sya’ban.[2]
Akan tetapi yang dianjurkan adalah qadha’ Ramadhan dilakukan dengan segera (tanpa ditunda-tunda) berdasarkan firman Allah Ta’ala,
أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al Mu’minun: 61)

Mengakhirkan Qadha’ Ramadhan Hingga Ramadhan Berikutnya

Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Orang yang menunda qadha’ puasa sampai Ramadhan berikutnya tanpa uzur wajib bertaubat kepada Allah dan dia wajib memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan disertai dengan qadha’ puasanya… Dan tidak ada kafarah (tebusan) selain itu. Hal inilah yang difatwakan oleh beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.”
Namun apabila dia menunda qadha’nya karena ada udzur seperti sakit atau bersafar, atau pada wanita karena hamil atau menyusui dan sulit untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban bagi mereka selain mengqadha’ puasanya.”[3]
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menganggap bahwa memberi makan kepada orang miskin karena menunda qadha’ puasa sampai Ramadhan berikutnya dapat diangggap sunnah dan tidak wajib. Dengan alasan bahwa pendapat tersebut hanyalah perkataan sahabat dan menyelisihi nash (dalil) yang menyatakan puasa hanya cukup diganti (diqadha’) dan tidak ada tambahan selain itu.[4]

Tidak Wajib untuk Berurutan Ketika Mengqadha’ Puasa

Dasar dibolehkannya hal ini adalah firman Allah Ta’ala,
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Tidak mengapa jika (dalam mengqadha’ puasa) tidak berurutan”.[5]

Barangsiapa Meninggal Dunia, Namun Masih Memiliki Utang Puasa

Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya. ”[6] Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah kerabat, menurut Imam Nawawi[7]. Ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ahli waris[8].Namun hukum membayar puasa di sini bagi ahli waris tidak sampai wajib, hanya disunnahkan.[9]
Boleh beberapa hari qadha’ puasa dibagi kepada beberapa ahli waris. Kemudian mereka (boleh laki-laki ataupun perempuan) mendapatkan satu atau beberapa hari puasa. Boleh juga dengan serempak beberapa ahli waris membayar utang puasa tersebut dalam satu hari.[10]
Yang dibayarkan puasa di sini adalah orang yang ketika hidupnya mampu dan punya kesempatan untuk mengqadha’ namun belum dilakukan hingga meninggal dunia.[11]

Pembayaran Fidyah

Bagi orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit yang sakitnya tidak kunjung sembuh, maka wajib bagi mereka fidyah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah: 184).
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”.[12]

Cara Penunaian Fidyah

1- Ukuran fidyah adalah dilihat dari ‘urf (kebiasaan yang layak) di masyarakat setempat. Selama dianggap memberi makan kepada orang miskin, maka itu dikatakan sah.[13]
2- Fidyah harus dengan makanan, tidak bisa diganti uang karena inilah perintah yang dimaksud dalam ayat.[14]
3- Satu hari tidak puasa berarti memberi makan satu orang miskin.
4- Bisa diberikan berupa makanan mentah (ditambah lauk) atau makanan yang sudah matang.[15]
5- Tidak boleh mendahulukan fidyah sebelum Ramadhan.[16]
6- Waktu penunaian fidyah boleh setiap kali tidak puasa, fidyah ditunaikan, atau bisa pula diakhirkan di hari terakhir Ramadhan lalu ditunaikan semuanya.[17]
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

[1] Lihat Roudhotun Nazhir wa Junnatul Munazhir, 1: 58.
[2] HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146
[3] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, no. 15 hal. 347.
[4] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 446-447.
[5] Dikeluarkan oleh Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad- dan juga dikeluarkan oleh Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya (4: 241, 243) dengan sanad yang shahih.
[6] HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147
[7] Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 25.
[8] Lihat Tawdhihul Ahkam, 2: 712 dan Syarhul Mumthi’, 6: 451-452.
[9] Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 25.
[10] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 450.
[11] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 451.
Imam Nawawi berkata, “Barangsiapa masih memiliki utang puasa Ramadhan, ia belum sempat melunasinya lantas meninggal dunia, maka perlu dirinci. Jika ia menunda utang puasanya karena ada uzur lantas ia meninggal dunia sebelum memiliki kesempatan untuk melunasinya, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa. Karena ini adalah kewajiban yang tidak ada kesempatan untuk melakukannya hingga meninggal dunia, maka kewajiban itu gugur sebagaimana dalam haji. Sedangkan jika uzurnya hilang dan masih memiliki kesempatan untuk melunasi namun tidak juga dilunasi hingga meninggal dunia, maka puasanya dilunasi dengan memberi makan kepada orang miskin, di mana satu hari tidak puasa memberi makan dengan satu mud.” (Al Majmu’, 6: 268).
[12] HR. Bukhari no. 4505.
[13] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 338 dan At Tadzhib hal. 115.
[14] Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Shalih Al Fauzan, 3: 140.  Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 66886.
[15] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 325-326.
[16] Syarhul Mumthi’, 6: 326.
[17] Idem.
6 Sya’ban 1435 H, di Pesantren Darush Sholihin
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com


Sumber: https://rumaysho.com/7867-qadha-puasa-dan-fidyah.html

Ingatkah Kita Kemacetan di Padang Mahsyar?

Kemacetan di Brebes Exit (Brexit)  menjadi trending topik pada lebaran Hari Raya ‘Idul Fitri 1437 H tahun ini. Menurut Rudi Agung kemacetan terburuk yang menjadi sejarah baru tradisi mudik lebaran telah memakan korban. Belasan jiwa meregang nyawa. Peristiwa yang seharusnya bisa diantisipasi sejak dini. Kemacetan ini mengingatkan kita pada “Kemacetan di Padang Mahsyar”.

Sebanyak 17 pemudik meninggal dunia selama arus mudik Lebaran, sejak 29 Juni hingga 5 Juli 2016 di wilayah Kabubaten Brebes, Jawa Tengah. Sebagian dari korban tersebut meninggal saat kemacetan parah. Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kemenkes RI Achmad Yurianto melalui keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan para korban meninggal dunia. “Kelelahan dan kekurangan cairan dapat berdampak fatal, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, orangtua, dan mereka yang memiliki penyakit kronis (hipertensi, diabetes, atau jantung),” ujar Yurianto.

“Ditambah kondisi kabin kendaraan yang kecil, tertutup, dan pemakaian AC yang terus-menerus. Hal ini akan menurunkan kadar oksigen dan meningkatkan CO2,” tambah dia. Kemacetan di Pejagan mencapai 30 km dan Brebes 6 km, cukup melelahkan, menelangsakan dan konon sampai menelan korban jiwa. Tidak kebayang betapa lelahnya berada di tengah kemacetan berjam-jam, maju tidak bisa mundur tidak bisa, sulit memperoleh supply air dan makanan, minimnya oksigen untuk bernafas. Kondisi Brexit ini memberi ilham keakhiratan : begitu takut jika mengalami kemacetan di Padang Mahsyar…!!

Ingatkah kita suasana Yaumil Mahsyar kelak, saat Allah SWT menghimpun puluhan bahkan ratusan milyar manusia dalam satu lokasi. Saat kaki tidak bisa bergerak kesana kemari kecuali hanya bisa menunggu dan menunggu giliran, saat amalnya dihisab. Saat itulah gambaran macet total milyaran manusia tak berpakaian tak beralasan kaki dimungkinkan terjadi. Rasulullah Muhammad saw bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR Tirmidzi dan ad Darimi).

Ingatlah dan berwaspadalah saat hari mengerikan itu tiba : “Peradilan yang adil tanpa suap dan gratifikasi, hari di mana seluruh wajah tertunduk, berhadapan hanya sang hamba dengan Rabb-nya saja”. Contoh dua pertanyaan seputar harta yang tidak akan meleset perhitungannya : Apakah yakin didapat dan dibelanjakan dengan cara yang halal dan baik ? Adakah garansi ia bebas dari riba, maisir, menipu, korupsi, dusta, mark up anggaran, mengurangi timbangan dan bentuk bentuk kedzaliman lainnya..? Mengurai pertanyaan hadist tersebut tentang umur, ilmu dan harta tentu butuh kajian yang komprehensif dan kontribusi. Jangan pernah lelah dan bosan untuk terus belajar dan menghadiri majelis-majelis ilmu Alquran dan Sunnah.

Ya Allah mudahkanlah kami dalam membekali diri untuk kehidupan yang abadi. Ya Allah kami hanya berharap ridha dan maghfirah-Mu. Ya Allah terimalah segala amal shaleh kami selama di bulan Ramadhan kemarin. Ya rabbana…..ampunilah segala dosa kami, mudahkan kami menuju surga-Mu dan jauhkan kami dari neraka-Mu. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami atas kelalaian menghabiskan umur, kelalaian mengamalkan ilmu, kelalaian memperoleh dan membelanjakan harta, dan kelalaian menggunakan tubuh ini… Bimbinglah kami di dunia dengan hidayah-Mu, mudahkanlah kami dari ketatnya hisab yaumil mahsyar, selamatkan kami dari fitnah dunia dan fitnah dajjal, selamatkanlah kami dari siksa api neraka. Amin ya Rabbal ‘alamin. (dakwatuna.com/hdn)

Malaikat Menaggis Saat Cabut Nyawa Wanita Ini

Malaikat Maut pernah menangis saat mencabut nyawa seorang wanita. Kisahnya yang mengharukan dicantumkan dalam Tadzkirah oleh Imam Qurthubi.

“Aku pernah menangis saat mencabut nyawa seorang wanita,” kata Malaikat Maut. “Saat itu ia baru saja melahirkan di padang pasir. Aku menangis saat mencabut nyawanya karena mendengar bayi tersebut menangis dan tidak ada seorang pun ada di sana.”

Tanpa sepengetahuan Malaikat Maut, karena ia hanya ditugaskan untuk mencabut nyawa, Allah Subhanahu wa Ta’ala lantas menyelamatkan bayi itu dengan caranya hingga kemudian ia tumbuh besar dan menjadi seorang ulama yang dicintaiNya.

Dalam riwayat lainnya diceritakan kisah yang berbeda. Malaikat Maut ditugaskan mencabut nyawa seorang wanita yang tenggelam di sungai. Yang membuatnya menangis, wanita itu memiliki dua anak yang masih kecil. Kedua anak itu tidak ditakdirkan meninggal sehingga mereka selamat sampai ke tepian, bahkan Malaikat Maut ikut membantunya menepi.

Menyaksikan dua anak yang masih kecil tersebut, Malaikat Maut menangis karena ia harus mencabut nyawa ibunya. Mereka akan menjadi anak-anak sebatang kara.

Tahun demi tahun berlalu, dua anak itu akhirnya tumbuh dewasa. Dan dengan izin Allah, kedua anak itu sama-sama menjadi raja di dua daerah yang berbeda.

***

Kita tidak pernah tahu kapan Malaikat Maut akan datang mencabut nyawa. Satu yang pasti, tak akan ada yang mampu memajukan dan menunda kematian sesaatpun ketika Allah sudah menetapkan waktunya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raf: 34)

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus: 49)

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Munafiqun: 11)

Bahkan meskipun Malaikat Maut iba pun, hal itu takkan menunda kematian yang telah dijadwalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’la.

Namun, kita juga tak boleh terlalu takut dengan masa depan anak-anak dan keturunan kita. Mereka hidup, tumbuh dan besar bukanlah karena kita tetapi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti kisah di atas, bahkan ditinggal oleh orangtuanya sekalipun, Allah yang akan menjaga mereka.

Yang justru perlu kita persiapkan dan lebih kita perhatikan adalah bekal kita menghadapi kematian. Siapkah kita menghadapi alam barzakh. Siapkah kita menghadapi hari kebangkita. Siapkah kita menghadapi yaumul hisab saat seluruh amal kita dibuka di hadapan seluruh makhluk. Sudahkah kita memikirkan, seandainya Malaikat Maut datang secara tiba-tiba kepada kita, di mana tempat tinggal kita nantinya; surga atau neraka?.

Popular post

Entri Populer

Entri Populer

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Nurul Asri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger